Transcript:
(00:35) Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang memudahkan kita untuk kembali mengadakan majelis ilmu yang mulia di malam hari ini di Masjid Raudhatul Jannah yang mulia ini.
(01:15) Di lanjutan kajian kita membahas kitab atau risalah yang sangat bermanfaat. Risalatu Fadlil Islam, Keutamaan atau Kemuliaan Islam karya dari As Syekhul Imamul Mujaddid As Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. Jadi kita masih melanjutkan pembahasan di bab tentang firman Allah Subhanahu wa taala.
(01:52) Maka hadapkanlah wajahmu, yakni ikhlaskanlah agamamu untuk agama Allah Subhanahu wa taala yang lurus. Kita telah baca beberapa ayat Al-Qur’an di bab ini, kemudian hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yang terakhir kita bahas yaitu hadis yang dibawakan oleh As Syekh at-Tamimi rahimahullahu taala. tentang keberadaan telaga Nabi sallallahu alaihi wasallam dan adanya orang-orang yang dihalangi, orang-orang yang menisbatkan diri sebagai umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang dihalangi untuk mendatangi telaga
(02:40) beliau. Padahal telaga beliau yang di yang mendatanginya adalah umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Yang di bagian akhir hadis ini dikatakan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, “La tadri ma ahdu ba’dak.” Kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan, apa yang mereka rubah sepatinggalmu.
(03:03) Maksudnya ya dibawakan di sini oleh penulis rahimahullahu taala untuk menjelaskan bahwa ada orang-orang yang dia menisbatkan diri kepada Islam mengaku sebagai umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam tapi mereka tidak setia mengikuti petunjuk beliau. Yakni petunjuk beliau sallallahu alaihi wasallam yang paling berat, yang paling besar adalah menegakkan tauhid.
(03:30) Tentu saja yang paling utama adalah menegakkan makna kalimat lailahaillallah. Tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik. Kemudian hanya mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Makanya para ulama ketika menjelaskan masalah tentang orang-orang yang mendatangi telaga ini ya seperti kata Syekh Salh Fauzan Alfaan hafidahullahu taala, “La yariduhu illa ahlut tauhidi wal ittiba.
(04:02) ” Tidak akan bisa mendatangi telaga kemuliaan pada hari kiamat nanti, kecuali hanya orang-orang yang benar-benar menegakkan tauhid, hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik. Dan ahlul ittiba hanya orang-orang yang selalu mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(04:27) Makanya sudah kita bahas kemarin kan penjelasan para ulama yang menyebutkan orang-orang ahlul bidah, orang-orang yang merubah petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Orang-orang yang melakukan perbuatan zalim, terang-terangan. Mereka inilah yang akan ya terancam untuk diusir dari telaga Nabi sallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat nanti.
(04:53) Nah, selanjutnya di sini Syekh masih membawakan beberapa riwayat berkenaan dengan masalah keberadaan telaga ini dan orang-orang yang akan diusir darinya supaya lebih memperjelas makna ya hakikat dari agama Islam yang sesungguhnya. Agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim alaihi salalatu wasalam bahkan para nabi dan para rasul sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang kemudian Allah subhanahu wa taala memerintahkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim alaihialatu
(05:32) wasalam. Kita akan baca di sini masih dibawakan beberapa riwayat tentang masalah ini ya. Di hadis yang berikutnya kata As Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullahu taala wa an Abi Hurairat radhiallahu anhu anna Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam qal. Kemudian hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhar Ad-Dausi, sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadis beliau secara mutlak.
(06:12) Beliau berkata bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Wadidtu anna qod ro ikhwanana. Aku sangat menginginkan bahwa kita telah melihat bertemu dengan ikhwan-ikhwan kita, saudara-saudara kita. Qara sahabat radhiallahu taala anhum ajmain bertanya, “Awalasna ikhwanaka ya Rasulullah?” Bukankah kami ini saudara-saudaramu wahai Rasulullah? Yakni saudara-saudaramu dalam Islam, dalam agama ini.
(06:53) Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, qala antum ashabi wa ikhwanunadzina lam ya ba’du. Kalian adalah para sahabatku. Yakni yang bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam, beriman kepada beliau dan mati di atas Islam. Inilah sahabat Nabi sallallahu alaihi wa wasallam yang memiliki kedudukan paling tinggi.
(07:24) Karena mereka adalah hamba-hamba yang dipilih oleh Allah untuk menyertai, memperjuangkan Islam bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam, membela sunah beliau. Jadi, kalian adalah para sahabatku. Sedangkan ikhwan-ikhwan kita adalah orang-orang yang belum datang. orang-orang yang datang nantinya di akhir zaman ya yang disebutkan dalam riwayat lain amanu bi walam yarouni.
(07:57) Mereka beriman kepadaku tapi belum pernah melihatku. Ini keutamaan yang besar bagi orang-orang yang datang di akhir zaman yang mereka mempelajari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya mengimaninya. membenarkannya dan mengikutinya. Semangat mengikutinya. Padahal mereka belum pernah bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam dan belum pernah bertemu dengan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
(08:28) Inilah mereka yang disebut sebagai ikhwan-ikhwan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang beliau sangat berkeinginan untuk bertemu dengan mereka. Ya. Jadi mereka ini punya kedudukan kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa taala karena keimanan mereka yang demikian kuat mengikuti petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam padahal belum pernah bertemu dengan beliau.
(08:56) Nah, tib qolu. Kemudian para sahabat radhiallahu taala anhum bertanya lagi, kaifa tarifu man lam yati ba’du min ummatika ya rasulullah? Bagaimana engkau bisa mengenali orang-orang yang belum datang saat ini dari kalangan umatmu wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Yakni pada hari kiamat banyak umat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang tidak bertemu dengan beliau.
(09:39) Bagaimana beliau bisa mengenali ini adalah umatnya? Qala maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aroita lau anna rulan lahu khailun khailun gurrun muhajjalah minhrai khailin buhin duhmin buh ala ya’rifu khailahu ala Bagaimana pandangan kalian kalau ada seseorang yang dia itu memiliki ya kuda-kuda yang diternak yang kuda-kudanya ini memiliki gurrah yang memiliki gurun muhajjalah ya memiliki warna putih di bagian kakinya yang dia asalnya hitam Tapi ada warna
(10:42) putih, ada belangnya warna putih di bagian kaki-kaki dari kuda tersebut. Ya, di bagian kakinya dan di bagian wajahnya. Yang kuda-kuda ini berada di antara kuda-kuda lain yang hitam pekat warnanya. Sama-sama hitamnya. Tapi kuda-kuda yang dimilikinya ini ada bintik-bintik putihnya atau belang-belang putihnya di bagian kaki dan di bagian kepalanya ya atau dekat matanya.
(11:17) Bukankah dia akan mudah mengenali kuda-kudanya tersebut? Qolu bala ya Rasulullah. Tentu saja dia mereka dia akan mudah mengenalinya mengenali kuda-kudanya tersebut. Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Qala kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Fainnahum yauna gurron muhajjalina minal wudui sesungguhnya umatku nanti akan datang pada hari kiamat ya seperti itu. Gurron muhajjalin.
(11:54) Ada cahaya putih di wajah dan di kaki dan kanan mereka di kaki dan tangan mereka. dari bekas-bekas wudu yang mereka lakukan sewaktu di dunia. Wa ana farum alal hai. Dan aku yang akan mendahului mereka datang ke telagaku pada hari kiamat nanti. Ketahuilah akan ada orang-orang yang diusir, dihalangi dari telagaku pada hari kiamat nanti.
(12:37) Sebagaimana diusir unta yang tersesat masuk dalam pekarangan atau kebunnya orang. Diusir, dikeluarkan. Faunadiim ala halummah. Kemudian aku memanggil mereka. Ya, karena ada jejak-jejak, bekas-bekas tadi dari yang beliau kenali sebagai umatnya. Aku panggil mereka, “Kemarilah kalian, kemarilah kalian. Fayuqol.
(13:01) Maka dikatakan kepadaku, innahum qod baddalu ba’dak. Mereka adalah orang-orang yang telah merubah setelahmu. Yakni merubah petunjukmu. Tidak mengikuti petunjukmu, tapi merubahnya dengan yang lain. Faakulu. Maka aku pun mengatakan suhqon suhqo. Kalau begitu celakalah. Binasalah mereka. Celaka dan binasalah mereka. Ini hadis sahih riwayat Imam Muslim.
(13:27) Iya. juga dibawakan oleh Syekh sebagaimana yang kita jelaskan ya yang lalu bahwa ada dalil-dalil yang sahih yang menunjukkan pada hari kiamat nanti ada orang-orang yang merasa dia itu mengikuti petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, bahkan dia menisbatkan diri sebagai umatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(13:56) Tapi ternyata ada perkara-perkara agama yang dia rubah ya karena dia tidak mempelajarinya atau dia tidak merujuk kepada pemahaman agama yang benar. Ada perkara-perkara yang dia pahami dengan keliru dan amalkan dengan keliru sehingga dia pun termasuk orang-orang yang tidak bisa mendatangi telaga kemuliaan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam pada hari kiamat nanti.
(14:22) Ini jelas merupakan peringatan bagi kita semua bahwa istikamah di atas Islam dan di atas sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang sahihah berdasarkan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain ini benar-benar manfaat dan keutamaannya kita rasakan dunia dan di akhirat.
(14:48) Kalau dikatakan di hadis ini ada orang-orang yang diusir bukan cuma satu orang ya padahal dia menisbatkan diri mengaku sebagai umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam maka tentu ini menjadikan kita harusnya tidak merasa diri kita aman dari kemungkinan terjerumus ke dalam perbuatan buruk tersebut untuk kita selalu memohon perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala agar dijauhkan dari segala bentuk kesesatan.
(15:18) Kemudian selalu berpegang teguh dengan majelis ilmu mempelajari petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya dengan pemahaman yang benar, pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Karena inilah yang menjadi sebab kita terjaga dalam kebaikan Islam dan kebaikan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(15:41) Nam. Ya, makanya di dalam penjelasan yang disebutkan oleh Syekh Salh Fauzan Alfauzan hafidahullahu taala, beliau mengatakan tentang makna hadis ini, fah fihit tahiru minal bidai wal inhirifi watagyiri fi dinillahi wadolal. Maka dalam hadis ini terdapat peringatan untuk menjauhi perbuatan bidah.
(16:13) Apalagi syirik, kekufuran, kesyirikan termasuk perbuatan bidah, al-inhiraf, penyimpangan-penyimpangan dalam agama. Ya, kemudian merubah-rubah agama Allah. Naudubillah minzalik. Dan peringatan untuk menjauhi segala bentuk kesesatan. Wafilu alas bidah alaihi wasri alaihial mautar nabi shallallahu alaihi wasallamta yasro min haudihi ya.
(16:49) Kemudian dalam hadis ini juga terdapat alhath motivasi untuk berpegang teguh dengan agama yang benar. Makanya minta kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus agar dimudahkan berpegang teguh dengan agama yang benar, dengan keimanan yang benar yang dijauhkan dari syubhat, segala bentuk fitnah, syubhat maupun syahwat. Dan untuk teguh di atas agama yang benar ini serta bersabar di atasnya sampai kematian datang menjemput kita, sampai kita datang menjumpai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam di telaga beliau dan minum dari telaga kemuliaan itu.
(17:30) Makanya bersabar di atas sunah. Bersabar selalu meminum dari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan mencukupkan diri dengan petunjuk beliau yang sempurna. ya petunjuk Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman yang benar yang ini merupakan petunjuk yang yang sempurna.
(17:50) Maka inilah yang menjadi sebab kita akan dapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat nanti sebagaimana yang disebutkan dalam hadis-hadis ini. Nam. Jadi perhatikan tadi di bagian akhir ini kan ya dikatakan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Innahum qod baddalu ba’dak.” Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang telah merubah agama setelahmu.
(18:16) Jadi kira-kira antum artikan bagaimana merubah agama? yakni tidak mau mempelajari agama sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Berarti agama yang benar, agama yang sempurna ya adalah agama yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala kepada nabinya sallallahu alaihi wasallam kemudian diamalkan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
(18:43) Itulah agama yang cukup bagi kita. merubah pemahaman dan pengamalan terhadap agama yang sempurna ini. Inilah yang menjadi sebab kecelakaan dan kebinasaan di dunia terlebih-lebih di akhirat nanti. Naudubillah minzalik. Tayib. Kemudian dibawakan juga hadis berikutnya ya. Dan juga merupakan hadis yang sahih. Imam Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi rahimahullah taala berkata, “Walil Bukhari.
(19:27) ” Kemudian dalam hadis sahih riwayat Imam albukhari ya dari hadis yang sama dari riwayat sahabat Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Baina ana qoimun idza zumratun hatta idza araftuhum. na khulun min baini wainahum faqumma faqulu aina q ilanar wuhum q inahumadu ba’daka ala adbhimulq qohqoro tumma idza zumratun fadakaro mlahu qala fala urohu yaklusu minhum illa mlu
(20:33) mlu hamalin naam ya ini juga hadis yang menggambarkan tentang dahsyatnya keadaan pada hari kiamat nanti sehingga ada orang-orang seperti yang digambarkan di dalam hadis yang sahih riwayat Imam Bukhari ini. ya yang menggambarkan tentang keadaan pada hari kiamat nanti bagaimana dahsyatnya ketika manusia dikumpulkan menghadap Allah subhanahu wa taala.
(21:06) Kata Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam, ketika aku sedang berdiri, yakni menggambarkan tentang keadaan di hari kiamat, maka tiba-tiba ada zumrah sekelompok orang. Sehingga ketika aku mengenali mereka, keluarlah seseorang dari antara diriku dengan mereka. Kemudian orang ini mengatakan, “Halumma, kemarilah.
(21:35) faqulu maka aku bertanya ke mana q ilanar kemari kita melihat ke neraka qulu aku katakan wuhum ada apa dengan mereka q maka orang ini mengatakan innahumadu baaka albarihimulqar mereka ini adalah orang-orang yang murtad meninggalkan agama setelahmu ya mundur ke belakang berpaling ke belakang berpaling ke arah belakang mereka.
(22:07) Kemudian tumma id zumratun. Kemudian tiba-tiba ada kelompok yang lain, sekelompok orang lain. Kemudian dia menyebutkan seperti yang sebelumnya, “Fala urahu yaklusu minhum.” Maka aku tidak memandang akan bisa keluar dari mereka kecuali seperti hamalin naam, seperti unta yang diusir atau unta yang tersesat. Ya, yang menjadi poin penting di sini juga dibawakan hadis ini untuk menggambarkan kepada kita bahwa hakikat agama yang benar, agama yang lurus, yakni yang sudah kita ketahui agama tauhid dan ittiba.
(22:52) Hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata menjauhi perbuatan syirik dan hanya mengikuti petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam serta menjauhkan diri dari perbuatan bidah. Tetapi ada orang-orang yang menyimpang dari petunjuk ini tanpa disadari bahwa dia telah meninggalkan agama ini, keluar dari agama ini.
(23:19) Kita harus ingat bahwa ini ada di kalangan kaum muslimin. Naudubillah minzalik. Semoga Allah subhanahu wa taala menjaga dan melindungi kita dari segala keburukan. Ada orang-orang yang dia merasa hidupnya baik-baik saja, ternyata dia telah murtad keluar dari Islam. Ya, sehingga pada hari kiamat nanti mereka baru sadar seperti yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an.
(23:45) Wabadalahum minallahi ma lam yakunu yahtasibun. Dan tampaklah di hadapan mereka balasan dari Allah yang sebelumnya mereka tidak sangka-sangka. Mereka menyangka memperkirakan mereka akan selamat. Ternyata mereka telah murtad. Ya, ada orang-orang yang tidak menyadari. Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala pernah menyebutkan tentang orang-orang munafik ya.
(24:16) Mereka bersumpah maqu, mereka tidak mengucapkan kalimat tersebut. Walaqod qolu kalimatal kufri wa kafaru ba’da islamihim. Padahal mereka sungguh telah mengucapkan kalimat-kalimat kekufuran dan mereka telah menjadi kafir setelah masuk Islam. Ada orang-orang yang tidak sadar bahwa ini terjadi pada dirinya. Makanya ini semua memberikan peringatan kepada kita bahwa berdoa kepada Allah meminta keteguhan iman apalagi di akhir zaman yang penuh dengan fitnah ini yang sudah kita pernah bacakan hadis-hadisnya.
(24:50) Iya kan? Seseorang gampang sekali runtuh imannya dalam sekejap. Ada orang yang di pagi hari masih beriman, sore harinya dia telah menjadi kafir atau sebaliknya. Ini kalau bukan penjagaan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala, tidak ada yang selamat. Makanya berdoa kepada Allah, minta istiqamah, keteguhan iman dan terus menetapi agama ini dengan terus belajar membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, mengkaji agama ini.
(25:21) Apalagi dalam hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, tauhid yang benar, kemudian menjauhi sebab-sebab yang bisa merusaknya. Ini adalah perkara yang paling wajib untuk kita usahakan dalam rangka penjagaan terhadap agama kita. Karena inilah sebab yang paling utama untuk menjadi sebab keteguhan iman bagi seorang hamba di akhir zaman.
(25:44) Ya, oleh karena itu kita tahu pembatal-pembatal Islam itu banyak. Hal-hal yang bisa menggugurkan tauhid kita juga banyak dan betapa banyak orang yang melakukannya ketika mereka tidak kenal agama ini. Ya, makanya ini semua kita harus hindari, semua kita harus waspada ya. Ingat perkara-perkara yang berhubungan dengan penyimpangan-penyimpangan dalam agama ini itu bisa terjadi tanpa seseorang itu menyadarinya karena tidak terlihat.
(26:17) Kan tidak ada jejaknya secara zahir ketika orang itu sudah rusak imannya, dia menyangka baik-baik saja. Ya, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang sahih seperti yang kita bawakan saat ini. Barakallahu fikum. Ya, yang jelas ini menjadikan gugur amalan orang tersebut. Di dalam Al-Qur’an di surah Albaqarah ayat 217 Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wamartid minkuminihi fayamut wahua kafirun faulaika habitaluhum fid dunya wal akhirati wa ulaika ashabunari hum fiha kholidun.
(27:02) Barang siapa di antara kamu yang murtad meninggalkan agamanya kemudian dia mati dalam keadaan dia kafir, maka mereka inilah orang-orang yang akan gugur amal-amalnya di dunia dan di akhirat. Dan merekalah orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka yang mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Naudubillah minzalik.
(27:23) Ya. Jadi selalu kita ingat keburukan itu akan berusaha untuk ya dijadikan oleh setan dalam rangka menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa taala. Akan dibawakan atau dibungkus dalam bentuk kebenaran sehingga orang tidak menyadari ketika dia sudah terjerumus dalam keburukan tersebut.
(27:53) Yang ini juga sudah kita bahas penjelasannya berkali-kali dan dibawakan juga dalil-dalilnya dalam pembahasan kitab ini. Oleh karena itu, ini dibawakan oleh beliau untuk mengingatkan kepada kita tentang hakikat makna agama Islam yang lurus. Ternyata banyak yang tidak memahaminya sehingga dia terjerumus ke dalam penyimpangan-penyimpangan.
(28:11) Tanpa dia sadari barulah kelihatan ya keburukan dari penyimpangan-penyimpangan tersebut ketika hari kiamat nanti. Ketika dia menghadap Allah Subhanahu wa taala sewaktu tidak bermanfaat lagi penyesalan tersebut. Ya. Naudubillahimiz minzalik. Tiib. Kemudian dibawakan lagi di sini hadis yang berikutnya. Walahuma min hadit ibni abbasin radhiallahu taala anhuma.
(28:41) Kemudian yang hadis yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan muslim dari sahabat yang mulia Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma ya anak paman Nabi sallallahu alaihi wasallam dan satu dari tujuh sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadis beliau ya. Disebutkan di sini dalam riwayat-riwayat yang masih berhubungan dengan masalah telaga tadi.
(29:16) Faakulu kamaqala al abdush, kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, yakni yang berhubungan dengan peristiwa pada hari kiamat nanti yang disebutkan sebelumnya tadi. Dari hadis ini disebutkan, kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Kemudian aku katakan sebagaimana yang dikatakan oleh hamba Allah yang saleh, yaitu Nabi Isa Ibnu Maryam alaihialatu wasalam.
(29:37) Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 117-18. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajukan uzur ini di hadapan Allah sebagaimana ucapan Nabi Isa alaihiatu wasalam. Wauntu alaihim syahidam ma dumtu fihim. Falamma tawaitani kunta anarqiba alaihim wa anta alain syahid in tuadzibhum fainnahum ibaduk wain tagfirlahum fainnaka antal azizul hakim.
(30:18) Dan aku ya Allah menjadi saksi bagi mereka selama aku masih hidup di kalangan mereka. Tapi setelah engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi perbuatan mereka dan Engkau Maha menyaksikan segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka ya Allah, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Tapi jika Engkau mengampuni dosa-dosa mereka, maka sesungguhnya Engkau yang maha perkasa lagi maha sempurna hukum dan hikmahmu.
(30:51) Ini maksudnya Nabi sallallahu alaihi wasallam tentu tidak bisa mengetahui keadaan mereka yang merubah-rubah agama yang berpaling, meninggalkan agama ini sepeninggal beliau. yang beliau bisa lakukan adalah hanya mengawasi orang-orang yang ada di sekitar beliau. Itu pun selama beliau masih hidup.
(31:12) Tapi setelah beliau wafat, maka Allah Subhanahu wa taala yang maha mengawasi perbuatan perbuatan mereka. Ya. Jadi seperti Nabi Isa Ibnu Maryam tentu dia tidak pernah memerintahkan kepada umatnya untuk menjadikan dia dan ibunya sebagai sembahan selain Allah. Itu adalah perbuatan yang mereka ada-adakan sendiri. Beliau mengajarkan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an ya.
(31:39) Wajukum biayatimikum fattaqulaha waaiun innallahabiukum fa’budu hum mustaqim. Wahai Bani Israil, aku datang kepada kalian dengan membawa tanda kekuasaan dari Rabbmu. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian semua, maka sembahlah kepadanya semata-mata.
(32:07) Inilah jalan yang lurus. Ini yang diserukan oleh Nabi Isa alaihialatu wasalam. Makanya sehubungan dengan surat Al-Maidah ini ya Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di dalam Al-Qur’an sebelum ayat-ayat yang tadi kita bacakan. Allah berfirman kepada Nabi Isa alaihiatu wasalam. Ya Isa Maryamainuni wa ummi ilahiniunillah.
(32:34) Ya, wahai Nabi Isa Ibnu Maryam, apakah kamu yang menyeru kepada umatmu manusia agar menjadikan dirimu, menjadikan diriku, yakni apa kamu? Katakan kepada mereka, “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua sembahan selain Allah.” Ya. Maka Nabi Isa alaihi salatu wasalam menjawab, “Qala subhanak.” Dia mengatakan, “Maha suci Engkau ya Allah.
(33:09) Ma yakunu li anula ma laisali bihaq.” Tidak pantas bagiku. Tidak mungkin saya mengatakan sesuatu yang tidak benar ya, yang tidak benar bagiku. Intu faq alimtaamu ma fi nafsi wlamu ma fi nafsik inakaamulub. Kalau aku katakan itu ya Allah maka sungguh engkau telah mengetahuinya karena engkau maha mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada dirimu.
(33:40) Ya Allah sesungguhnya Engkau maha mengetahui perkara yang gaib. Ya. Kemudian Nabi Isa alaihiatu wasalam mengatakan, “Ma qulu lahum illa ma amartani bihi anudullahabiukum.” Aku tidak mengatakan kepada mereka, “Aku tidak perintahkan kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku, yaitu hendaknya kalian hanya menyembah kepada Allah karena dia adalah Rabbku dan Rabb kalian semua.
(34:12) ” Nabi Isa alaihi salatu wasalam memerintahkan kepada yang baik sebagaimana para nabi yang lain. Apalagi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang paling sempurna dalam menegakkan perintah Allah subhanahu wa taala dan menjauhi larangannya. Makanya ketika itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengucapkan seperti ucapan Nabi Isa alaihiatu wasalam ya yang disebutkan di dalam hadis ini.
(34:36) Wauntu alaihim syahidam ma dumtu fihim falamma tawaitani kunta antarqiba alaihim wa anta ala kliaiin syahid. Dan aku yang menjadi saksi bagi mereka selama aku masih hidup ada di kalangan mereka, ya Allah. Tapi ketika Engkau telah wafatkan aku, maka Engkaulah yang kemudian mengawasi mereka dan Engkau maha menyaksikan segala sesuatu.
(35:04) Ya, jadi para nabi alaihialatu wasalam tidaklah memerintahkan kepada umatnya kecuali kebaikan. Tapi setelah itu umatnyaalah yang mengadakan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari petunjuk mereka. Sehingga pada hari kiamat nanti mereka akan berlepas diri dari penyimpangan-penyimpangan tersebut. Yang jelas ini semua dibawakan sekali lagi untuk ya menggambarkan kepada kita tentang dahsyatnya keburukan pada hari kiamat.
(35:35) Ya, keadaan yang sangat merik mengerikan pada hari kiamat. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala dengan sebab kita berpegang teguh dengan agamanya, berpegang teguh dengan hakikat agama Islam yang sesungguhnya, yaitu agama yang memerintahkan kita untuk hanya tunduk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa taala dengan beribadah, mentauhidkannya, beribadah kepadanya semata-mata dan tidak menyekutukannya.
(36:02) Selalu mengamalkan ketaatan, melaksanakan perintahnya, dan menjauhi larangannya. dan selalu memurnikan ittiba hanya mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam dan menjauhi segala bentuk penyimpangan-penyimpangan kesyirikan, bidah, perbuatan, maksiat maupun yang lainnya. Ya, inilah sebab yang akan bisa menyelamatkan kita ketika kita menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti insyaallah.
(36:27) Barakallahu fikum. Cukup sampai di sini insyaallah beberapa hadis yang bisa kita bawakan di kesempatan malam hari ini. Ya, semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat. Barakallahu fikum. Kita lanjutkan dengan azan dulu atau sudah waktu azan ya? Sudah. Baik. Kalau belum kita silakan dengarkan pertanyaan antum, silakan.
(37:10) Tibikum, Ustaz. Kita bacakan ee pertanyaan-pertanyaan yang telah masuk di WhatsApp kami. Ee kita bacakan pertanyaan pertama di luar tema, Ustaz. I ee bismillah, Ustaz. Apakah termasuk mengurangi kemuliaan atau termasuk kurang adab terhadap orang yang jika ditraktir makan dan setelah makan itu dia minta lagi untuk dibungkus yang kadang dia bungkus lebih dari satu porsi.
(37:41) Masyaallah. Dan ini menjadi kebiasaannya ustaz. Alasannya karena yang terakhir banyak jiwangnya katanya Ustaz. Iya. Barakallahu fikum. Ketika seseorang itu ditraktir makan tanpa dia meminta, tentu boleh-boleh saja. Tapi kalau meminta ditraktir, ini termasuk perbuatan meminta-minta yang tercela dalam agama. Sama seperti tadi, membungkus tanpa di isyaratkan oleh yang punya ini juga tidak pantas dan tidak adab.
(38:15) Termasuk perbuatan meminta-minta. Kecuali kalau dia tawari ya. Kecuali kalau sudah kita ketahui dia tawari secara langsung atau secara isyarat bahwa dia memperbolehkan kalau kita misalnya bungkus untuk membawakan keluarga di rumah misalnya kita bungkus dan itu pun tentu kita pertimbangkan ya sesuatu yang yang wajar.
(38:38) Ala kulihal kalau meminta dibungkus seperti ini tanpa ada ee penjelasan dari yang mentraktir maka ini dikhawatirkan termasuk perbuatan meminta-minta yang tercela dalam urusan agama. kecuali kalau dia sendiri yang mengizinkannya. Nah, barakallah fikum. Baballahu fikum. Kita bacakan ee pertanyaan berikutnya.
(38:59) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ustaz, apakah setiap orang yang terjatuh dalam kesyirikan atau perbuatan bidah karena kebodohan dapat diberi uzur, Ustaz? Jika tidak, apa batasan-batasannya menurut Al-Qur’an dan sunah, Ustaz? Iya. Barakallahu fikum. Secara umum yang namanya aludru bil jahli ada uzur karena kejahilan itu ada.
(39:25) Ah ya jelas sekali ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan misalnya firman Allah Subhanahu wa taala wama kunna muadzibina hatta nabata rasula. Kami tidak akan mengazab satu kaum sampai kami sampai kami mengutus rasul kepadanya. Artinya kalau belum sampai kepadanya petunjuk rasul berarti tidak kena dia azab. Kemudian ayat Al-Qur’an juga yang tentang masalah menentang rasul dan jalan para sahabat kan disebutkan wusikiras ba’di maabahul hudairil mukminin.
(40:03) Barang siapa yang menentang Rasul sallallahu alaihi wasallam setelah jelas petunjuk di hadapannya. Y ini kalau belum jelas dia tidak mengetahui, maka jelas beda hukumnya dengan orang yang telah jelas di hadapannya. Cuma di sini ya masalah kejelasan seseorang itu terhadap petunjuk tidak sama satu dengan orang lain atau satu tempat dengan tempat yang lain.
(40:29) Ada orang yang dia tidak belajar agama sama sekali, jauh dari lingkungan yang memungkinkan dia untuk mendapatkan pencerahan atau nasihat. Tapi ada orang yang tinggal di lingkungan ya yang dia dapatkan penjelasan tersebut tapi dia tidak peduli, tidak mau belajar, sengaja berpaling dari pelajaran agama.
(40:54) Ya, ini beda keadaannya. Sebagaimana orang yang tinggal di lingkungan yang setiap hari misalnya ceramah-ceramah yang disampaikan menyangkut masalah tauhid, menjauhi syirik, berpegang teguh dengan sunah, menjauhi bidah. Contoh seperti kebanyakan masjid-masjid yang ada di Makkah dan Madinah atau di Arab Saudi secara umum khatib-khatib yang menyampaikannya isi materinya seperti ini.
(41:17) Sehingga orang yang hidup di lingkungan sana dengan sendirinya dia telah mendapatkan penjelasan dari hal-hal yang berhubungan dengan ee tauhid, keimanan atau ittiba kepada sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa ali wasallam. Tentu berbeda dengan orang yang tinggal di tempat yang selain itu yang tidak sampai. Seperti itu keadaan yang disampaikan di dalam khotbah-khotbah atau ceramah-ceramah yang dia bisa dengarkan di masjid-masjid kaum muslimin.
(41:47) Al kulihal ini ya ee tetap tidak bisa kita hukumi dengan satu. Cuma yang jelas Allah maha mengetahui. Seorang hamba kalau dia benar-benar melanggar karena ketidaktahuan bukan karena dia sendiri tidak mau belajar atau tidak peduli terhadap agamanya. Tentu Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh untuk mengenal kebenaran dan siapa yang tidak mau dan tidak peduli untuk mempelajari agamanya.
(42:12) Nam. Barakallahu fik. Baik. Baru fikum. Kita bacakan pertanyaan dari umahat. Ustaz. E bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhamsalam. Izin bertanya, Ustaz. Ustaz, apakah suami tetap terhitung ikhlas dalam memberikan nafkah kepada istrinya jika setelah memberikan uang ia terus mempertanyakan ke mana uang itu digunakan padahal uang tersebut hanya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga.
(42:35) Ustaz, ya. Barakallahu fikum. Ini tidak berhubungan dengan masalah ikhlas insyaallah yang saya ketahui kalau tujuannya untuk sekedar mengawasi. Ya, dia mempertanyakan karena itu adalah haknya. Apalagi kalau misalnya dia mengetahui istrinya agak boros misalnya dalam pengeluaran, wajar dia tanyakan ya.
(43:02) Meskipun tentunya sebaiknya seorang suami ketika menanyakan masalah seperti ini, dia menggunakan bahasa yang sopan dan bukan bermaksud untuk menuduh atau mencurigai istrinya. Ah, ya. sekedar dia tanyakan secara umum saja ya, apalagi dia melihat istrinya juga cukup dengan menggunakan uang tersebut. Ya sudah, ya kewajiban dia adalah memberi nafkah dan sudah berusaha membimbing istrinya agar memanfaatkan nafkah tersebut dengan benar untuk dirinya dan anak-anaknya atau anggota keluarganya yang lain.
(43:34) Nah, jadi itu yang harusnya dia usahakan. Yang jelas kalau sekedar pertanyaan seperti ini, itu adalah hak-hak dari suami selama tujuannya hanya sekedar untuk membimbing dan memastikan karena dia wajib untuk bukan hanya menyerahkan nafkah dalam berupa uang, tapi juga harus berusaha mengetahui dan memastikan bahwa nafkah tersebut benar-benar digunakan dan ditujukan sesuai dengan sesuai dengan peruntukannya. Nah, barakallahu fikum.
(44:01) Kita bacakan pertanyaan berikutnya, Ustaz. Ee Ustaz mengingat sekarang banyaknya dan pentingnya anak-anak mempelajari ilmu agama, Ustaz. Apakah termasuk berdosa jika tidak menyekolahkan anak di pondok-pondok pesantren, Ustaz? Iya. Barakallahu fikum. Hukum asalnya orang tua itu kan wajib untuk mendidik anaknya dengan pendidikan dari mereka sendiri.
(44:33) Kalau mereka tidak mampu, maka digunakanlah bentuk pendidikan yang lain. Ya, tidak mesti harus dengan masukkan ke dalam pesantren. Apalagi kalau mungkin keadaan pesantren belum tentu juga orang mampu misalnya membayar biayanya, kemudian mengantar jemput ke pesantren tersebut, kemudian juga banyak mungkin aturan-aturan yang lain.
(44:54) Tidak semua orang sanggup, tapi kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya bisa dengan cara dia luangkan waktunya sendiri dan itulah yang ideal. Kalau tidak pun dia bisa mendatangkan guru dari luar yang mengkhususkan waktunya untuk ya yang dia minta dikhususkan waktunya untuk bisa mengajarkan kebaikan kepada agama, kebaikan agama kepada anak-anaknya.
(45:16) Itu yang berusaha dia lakukan ya. Cuman tentu saja yang berhubungan dengan masalah pemasukan ke dalam pesantren. Seandainya kita tahu ini pesantren baik kemudian juga bisa kita jangkau dalam pembiayaannya. ini bukan cuma sekedar untuk mendidik anak kita dengan pengajaran agama yang baik juga untuk meng tidak kalah pentingnya juga untuk menjauhkannya dari pendidikan yang tidak benar.
(45:42) Kalau pendidikan-pendidikan yang bersifat umum apalagi di situ ada ikhtilaf campur baur antara laki-laki dan perempuan tentu ini akan bisa berpengaruh kepada ya kualitas pendidikan itu sendiri ya pembentukan akhlak dan sebagainya. Apalagi di akhir zaman yang demikian banyak fitnah ya, demikian cepat tersebar informasi yang baik maupun yang buruk.
(46:03) Nah, barakallahu fikum. Kita persilakan dari jemaah mungkin ada yang mau bertanya langsung. Kami kasih mikrofonnya. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Am ya. Silakan bertanya, Pak Ustaz terkait dengan ee salah satu hadis terkait dengan yang safat tadi, Pak. Ee kalau gak salah dalam hadis itu ee syafaatku untuk umatku yang berbuat apa namanya dosa besar mungkin.
(46:45) Ya, Ustaz, kira-kira kalau dari hadis tersebut apakah tidak apa bisa menyebabkan kita bermudah-mudahan dalam melakukan dosa, Pak Ustaz? Karena tadi terkait syafaat itu untuk di untuk umat Nabi Muhammad, untuk yang pelaku dosa besar. Kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, barakallahu fik.
(47:07) Itu memang hadisnya hadis yang sahih. Syafaati liahlil kabairi min umati. Syafaatku itu untuk pelaku-pelaku dosar dari dosa-dosa besar dari umatku. Tapi kan ada syaratnya. Di dalam Islam itu kita memahami agama tidak boleh hanya membaca satu hadis kita pahami seperti itu. Karena di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Man dzalladzi yasfau indahu illa biidnih.
(47:34) ” Siapakah yang bisa memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izinnya? Berarti harus ada izin dari Allah. Kemudian ayat-ayat Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Yaumaidin lafausyafaatu illa manina lahurahmanu lahu qu.” Ya, pada hari kiamat nanti tidak akan bermanfaat syafaat kecuali bagi orang-orang yang diizinkan oleh Allah yang maha pemurah dan Allah ridai ucapannya.
(48:02) Kemudian hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang syafaat seperti dalam hadis riwayat Imam Muslim. Wahya nailatun insyaallahu man mata la yusyriku billahian. Yang syafaatku itu akan tidak dicapai oleh orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan aku dengan sesuatu apapun. Jadi ada syaratnya syafaat. Bagi yang memenuhi syarat insyaallah dia bisa dapatkan.
(48:28) Bagi tidak ya tidak dapat. Karena syafaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an ada syafaat yang Allah batalkan. Tidak bermanfaat bagi mereka syafaatnya orang-orang yang akan memberi syafaat. Jadi pelaku dosa besar kalau dia menuh syarat dia dapat. Dan syafaat kan bukan hanya untuk pelaku dosa besar. Ada syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam bagi penghuni surga untuk masuk surga.
(48:55) Ada syafaat untuk meningkatkan derajat mereka di surga. Ada pelaku dosa besar tadi ada. Ada juga bagi yang sudah masuk ke neraka dikeluarkan dari neraka. Ya, ada berapa syafaat? Ada yang khusus bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam seperti asyafaatul uzma. Syafaat ketika di padang mah untuk semua manusia agar disegerakan pelaksanaan ee pelaksanaan perhitungan-perhitungan amal mereka.
(49:22) Karena di padang mahsyar yang sangat dahsyat ketika itu. Jadi syaratnya untuk mendapatkan syafaat ini juga sudah pernah kita jelaskan beberapa kali. Yang pertama idullah fis syafaah. Izin Allah dalam pemberian syafaat tersebut. Yang kedua, yang berhubungan dengan orang-orang yang akan memberi syafaat ya, yaitu ridallah anis syafi.
(49:48) Allah meridai orang-orang tersebut yang akan memberi syafaat. Maka tentu yang akan memberikan syafaat ya Nabi sallallahu alaihi wasallam itu ada bahkan syafaat beliau yang khusus. Bahkan para nabi yang lain, orang-orang yang beriman, para malaikat. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Syafaatil malaikatu wasyafaan nabiyun wasyafaal mukminun.
(50:12) ” Para malaikat memberi syafaat, para nabi memberi syafaat, orang-orang yang beriman bisa memberi syafaat kepada orang-orang yang dikenalnya atau anggota keluarganya. Itu sudah ketahuan siapa yang diizinkan. Bahkan anak bayi yang meninggal sebelum balig dua orang atau lebih bisa memberi syafaat kepada orang tuanya.
(50:31) Sekarang syarat yang terakhir bagi yang akan mendapatkan syafaat harus ridallah. Allah meridainya dan Allah tidak akan meridai orang yang tidak bertauhid dengan benar. Allah hanya akan meridai ahlut tauhid. Orang yang selalu menegakkan tauhid hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya serta selalu menegakkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(50:54) menjauhi perbuatan bidah. Makanya pelaku kesyirikan tidak mendapatkan tidak akan mendapatkan syafaat dari Allah Subhanahu wa taala kalau mereka tidak bertobat dari perbuatan syiriknya. Sehingga dengan penjelasan seperti ini, orang tidak bisa bermudah-mudah karena dia sendiri belum tahu apakah dia bisa mendapatkan syafaat.
(51:12) Ya, termasuk orang yang bermuda-muda ini ciri-ciri orang yang tidak akan dapatkan syafaat. Karena apa? Dia meremehkan perbuatan dosa besar. Berarti imannya dipertanyakan, rasa takutnya kepada Allah lemah. Bagaimana mungkin orang seperti ini dikatakan orang yang menegakkan tauhid sementara dia meremehkan perbuatan dosa dan durhaka kepada Allah Subhanahu wa taala? Ya, justru yang dapatkan syafaat itu adalah orang yang selalu memohon kepada Allah agar diizinkan mendapatkan syafaat dari sisinya, dari orang-orang yang Allah ridai. Dia
(51:46) yang selalu takut akan dosa-dosanya. Ini adalah ciri-ciri orang yang akan mendapatkan syafaat. Bukan orang-orang yang meremehkan dosa-dosa besar tadi. Naudubillah minzalik. Nam iya. Orang yang terusir dari telaga Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Apakah mereka di dipastikan masuk ke dalam neraka? Tidak. mesti demikian.
(52:22) Karena orang-orang yang disebutkan tadi ada bermacam-macam. Ada yang disebutkan tadi yang murtad meninggalkan agamanya. Jelas berarti dia murtad. Ya, murtad berarti dia kafir, kekal dalam neraka. Tapi ada juga yang melakukan perbuatan-perbuatan bidah tapi tidak sampai kepada kufur. Ini berarti termasuk pelaku dosa besar yang akan diazab dalam neraka sesuai dengan kadar dosanya.
(52:46) Setelah itu, selama dia masih punya iman, masih ada tauhid, belum batal tauhidnya, maka dia masih akan dimasukkan ke dalam surga setelah dibersihkan dosa-dosanya dalam neraka. Jadi bertingkat-tingkat orang yang ee mendapatkan ancaman seperti ini, tapi ada yang parah tadi ya, seperti yang disebutkan orang-orang yang merubah atau murtad meninggalkan agamanya ya berganti menjadi kafir maka ini jelas yang akan masuk ke dalam neraka bahkan kekal di dalamnya. Naudubillah minzalik.
(53:13) Nah, barakallahu fik. Satu pertanyaan penutup, Ustaz. Ee bismillah, Ustaz. Adakah tanda-tanda yang bisa kita rasakan pada diri kita kalau Allah Subhanahu wa taala telah menerima tobat yang kita ikhtiarkan? Dan Ustaz untuk mempelajari tauhid dan akidah lebih dalam, adakah rekomendasi buku untuk mentun kami, Ustaz? Iya, barakallah fik.
(53:40) Adapun ciri-ciri kalau untuk memastikan tentu kita tidak tahu. Cuma kita bersangka baik kepada Allah bahwa dia yang menyebutkan bahwa dia mencintai orang-orang yang bertobat. Innallaha yuhibbut tawwabina wuhibbul mutathahirin. Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala mencintai orang-orang yang bertobat. Jadi kalau kita sudah bertobat dengan sungguh-sungguh ya dan tentu kita terus istigfar sebagaimana contoh dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang terus beristigfar setiap setiap hari.
(54:09) ya sampai 70 kali atau 100 kali ya terus kita lakukan seperti ini. Kita akan rasakan kalau kita kemudian semangat melakukan kebaikan kemudian semakin bersungguh-sungguh meninggalkan keburukan, maka ini ciri-ciri orang yang dekat dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Karena dia membenci apa yang dibenci oleh Allah, mencintai apa yang dicintai oleh Allah.
(54:34) Ya, ciri-ciri orang yang amalnya diterima oleh Allah kan semangat mengamalkan amalan saleh setelahnya. Itu ciri secara umum. Kita bisa lihat ciri-ciri ini. Kalau kita semakin semangat berbuat kebaikan, semakin menjauhi perbuatan buruk, berarti insyaallah kita termasuk orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang pernah kita lakukan.
(54:56) Itu yang bisa kita ketahui dari ciri-cirinya secara umum. Yang jelas terus kita berdoa dan terus kita melakukan amal-amal kebaikan ini. Terus kita bertobat dan beristigfar kepada Allah subhanahu wa taala. Adapun untuk buku yang direkomendasikan ya, alhamdulillah para ulama telah menyebutkan buku-buku misalnya dalam masalah tauhid.
(55:15) Kita mulai dengan kitab al-shulut salatah yang ditulis juga oleh Syekh penulis ini. Tiga landasan utama bisa dengan syarah yang ada saat ini seperti penjelasan dari Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullahu taala. Kemudian berikutnya kita bisa baca kitab Kasyfus Syubhat yang menyingkap kerancuan dalam memahami tauhid utamanya tauhid uluhiyah yang ditulis juga oleh Syekh.
(55:39) Kemudian ada kitabut tauhid yang lebih rinci lagi menjelaskan tentang tauhid dan penyimpangan-penyimpangan kesyirikan, bentuk-bentuk dan contoh-contohnya. Ini juga kitab yang sangat bermanfaat. Kemudian kita melangkah misalnya ke kitab al-Aqidatul Wasitiyah ya yang sudah pernah kita bahas juga kajian di Masjid Babul Jannah di THR sampai selesai beberapa tahun yang lalu.
(56:00) Ini kitab-kitab yang sangat bermanfaat. Kemudian kita bisa melangkah di kitab berikutnya misalnya kitab al-Aqidatut Thahawiyah yang sampai saat ini kita masih bahas di Masjid Asunah ya. Dan ini kitab-kitab yang secara urutan bisa kita pelajari dan juga alhamdulillah ada rekaman-rekaman dari para ustaz kita yang bisa kita dengarkan kalau kita ingin mengikuti urutannya.
(56:20) Maka dengan sebab ini insyaallah kita bisa memperkuat tauhid dan keimanan kita dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa taala secara setahap demi setahap. Barakallahu fikum. Nah, baik mungkin cukup sampai di sini. Kita sudah sampai waktu atau sudah masuk waktu salat isya. Semoga bermanfaat dan mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.
(56:44) Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin waa alihi wasbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Oh.
[LIVE] Kajian Maghrib ” Fadhlul Islam (Keutamaan Islam)” Oleh Ustadz Abdullah Taslim,MA – YouTube
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply