rabbis samaawati wal ardhi wama [bernyanyi] bainahumar rahman la yamlikuna minhu khitaba yauma yaquumur ikatu la yatakallamuna illa man [bernyanyi] adina lahur rahmanu waqala sawaba dzalikal yaumul haqq faman attakhadza ila rabbihi maaba Inna [bernyanyi] anzarnakum adzaban qariba. Yauma [bernyanyi] yzurul maru maa qaddamat yada.
Waquul kafiru ya laitani kuntu turaba. Bismillahirrahmanirrahim. Wnaziati gharqa wasnasitati nasta wasabihati sabha fasabiqati sabqa fal mudabbirati amra. yaumaidin wajifah absaruha [bernyanyi] khosi’ah yaquuluna a inna lamaruduna fil hafirah aidza kunna
idaman nakhirah qalu Q tilka idan karratun khasirah fainnama [bernyanyi][musik] hiya zajratun wahidah faidza hum bisahirah hal ataaka haditu Musa idz nadaahu [bernyanyi] rabbuhu bilwadil muqaddasi thawa idhab ila Firuna innahu [bernyanyi] tha faqul halaka ila an tazakka wa ahdiyaka ila rabbika fatakhsya faarahul ayatal kubra fakadzaba wa asa [bernyanyi] tumma adbara yas’a fahasyara fada [bernyanyi]
faakahullahu [bernyanyi] nakalal akhirati wal ula inna fi dzalika la ibrrat liman yakhsya aantum asyaddu khalqan amissamau banaaha [bernyanyi] wa lailaha [bernyanyi] wa akhraja duha wal ardha ba’da dzalika dahaha akhraja minha [bernyanyi] maaha wa mara’aha wal jibala arsaha mataakum [berteriak]
kubra yauma yatadakul insanu [bernyanyi] maa sa’a wa burrizatil jahimu liman yara faamma unal jahima hial mawa wa amma naudubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina may yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu Abduhuasul Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin.
Amma ba’du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwah akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah kita memuji Allah subhanahu wa taala atas taufik yang dimudahkannya bagi kita di pagi hari ini setelah kita melaksanakan salat subuh secara berjamaah, kita lanjutkan dengan mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid As-sunah yang mubarak ini.
di lanjutan kajian membahas kitab tafsir yang sangat bermanfaat, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan. Tulisan dari al Imam al-Allamah almufassir As Syekh Abdurrahman bin Nasir Ass’di rahimahullahu taala. Tib. Saat ini kita akan melanjutkan pembahasan di kitab tafsir ini. Kita telah selesai di pertemuan yang lalu membahas surah Ad-Dhuha.
Sekarang kita melangkah di surah yang berikutnya, surah Asyarh atau Alam Nasrah. Laka shodrq. Yang ini adalah termasuk surah Makkiyah yang diturunkan sebelum Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berhijrah dari Makkah ke Madinah. Tib. Sebelum kita [berdehem] jelaskan, mungkin ada salah seorang di antara antum yang membaca surat ini.
H [berdehem] Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Alam nasroh laka shodrak waadh’na anka wizrak. Alladzi anqod zuhrok warofa’na laka dzikrak fainna ma’al usri yusro. Inna ma’al usri yusro. Faidza faragta fansob wailabika farghab. [berdehem] Bab. Barakallahu fik. Alhamdulillah. Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Bismillahirrahmanirrahim. [berdehem] Alam nasroh laka shodrok. [berdehem] Ya, ini surat yang menjelaskan tentang karunia dan kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kata Syekh Abdurrahman Ass’di rahimahullahu taala, “Yakulu taala mumtanan ala rasulihi sallallahu alaihi wasallam.
” Allah berfirman dalam rangka menyebutkan nikmatnya, karunianya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Alam nasroh laka shodrok. Bukankah kami telah melapangkan dadamu? Ya, Allah melapangkannya untuk menerima kebaikan Islam. Dan memang satu-satunya yang bisa melapangkan hati manusia, menyejukkan dadanya adalah memahami dan mengamalkan syariat agung yang Allah turunkan dalam agama ini.
A nuwasiu nuwasiuhu lyariddini watiallahi walitofi bimakarimil akhlaki wal iqbali alal akiratihilirati. Jadi maknanya alam nasroh laka shodrok. Bukankah kami telah melapangkan bagimu [berdehem] dadamu wahai Rasulullah wahai Muhammad sallallahu alaihi wasallam. yaitu kami lapangkan untuk menerima syariat agama ini, untuk berdakwah ke jalan Allah, serta untuk memiliki sifat ya, yaitu dengan akhlak yang mulia serta menghadapkan diri kepada akhirat dan dimudahkannya bagimu kebaikan-kebaikan.
Masyaallah. Inilah kelapangan yang sesungguhnya. kelapangan yang benar-benar kelapangan karena Allah Subhanahu wa taala menurunkan agamanya memang untuk melapangkan dada manusia untuk membahagiakan lahir dan batin manusia. Maka ini merupakan nikmat yang sangat besar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
yang berarti ini menunjukkan [berdehem] ya kalau kita mengikuti petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam menjalankan agama ini, memahami dan mengamalkannya, selalu mensyukuri nikmat Allah, maka kelapangan itu juga tentu akan diberikan kepada orang-orang yang setia mengikuti petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
Ya, sudah kita tahu di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang ciri orang yang mendapatkan taufik yang sempurna darinya. Famay yuridillahu ay yahdiyahu yasroh shodrohu lil Islam. Barang siapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan hidayah kepadanya, Allah jadikan dadanya lapang menerima Islam.
Maka inilah ya termasuk karunia terbesar yang Allah Subhanahu wa taala limpahkan kepada manusia yaitu kelapangan dada menerima syariat Islam mengajak manusia ke jalan Allah memiliki [berdehem] akhlak yang mulia sebagaimana yang di perintahkan dalam Islam serta menghadapkan diri ke akhirat ya lebih cinta kepada akhirat dibandingkan dunia dan kemudahan dalam melakukan amal-amal kebaikan Am yakunqan yakirin w taku tajiduhu munasiton.
Maka Allah tidak menjadikan dadamu sempit dan merasa berat terhadap agama ini. Yang dada yang sempit itu hampir-hampir tidak mau tunduk kepada kebaikan dan hampir-hampir kamu tidak mendapati dia munasitan. Ya, tidak mendapati orang itu orang yang memiliki dada seperti ini munasit. Ada keceriaan padanya [berdehem] ya. Ada inbisat, ada kelapangan padanya.
Naudubillah minzalik. Wawadna anka wizrak. Dan bukankah kami telah menurunkan darimu bebanmu? Ya, diartikan di sini wizrak di sini danbaka. Kami telah menghapuskan mengampuni dosa-dosamu. Aidan baka, yaitu dosa-dosamu. Ya, dosa-dosa inilah yang menjadi sebab manusia merasakan kesempitan. Manusia merasakan dirinya berat dengan beban yang berat.
Karena dosa-dosa itu menutupi hati, mengotori hati. sehingga menjadikan hati itu tidak lagi lapang dan luas untuk menampung kebaikan. Kita kan tahu di dalam sebuah hadis yang sahih yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dinyatakan sahih oleh Syl Albani rahimahullah taala dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, idnabal abdu danban nukitat fi qolbihi nuktatun sauda fain taba wazaa wastagfaro shokila qolbuhu fain ada fain zada zadat hatta ta’lu qolbahu. Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa akan dibubuhkan di hatinya satu titik hitam kalau dia segera bertobat, membersihkan diri, ya mencabut diri dari dosa tersebut dan beristigfar mohon ampun kepada Allah maka bersih kembali hatinya.
Tapi kalau dosanya bertambah maka titik hitam itu juga bertambah sampai meliputi semua hatinya. ini akan menjadikan hati tertutup, jadi sempit karena dosa tersebut. Makanya kembali kepada Allah dan istigfar inilah yang akan membersihkan hati sekaligus menjadikannya ringan dan lapang kembali. Nam. [berdehem] Jadi Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di sini, “Kami telah turunkan darimu beban yaitu dosamu yang menjadikan hatimu sempit, menjadikan berat.
” Alladzi anqod zahrak yang memberatkan punggungmu. Aqala yakni memberatkan punggungmu. Ini kamaqala taala seperti firman Allah Subhanahu wa taala di surat alfath. liyagfirakallahu maa taqdama min dzambika wa taakhar. Agar Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam telah dijamin pengampunan dosa-dosanya.
Kita tahu ya bersamaan dengan itu ibadah dan ketaatan beliau juga adalah yang paling sungguh-sungguh. [berdehem] Karena seseorang yang mendapatkan limpahan nikmat dari Allah Subhanahu wa taala, wajar kalau dia semakin banyak mendapatkan nikmat semakin banyak bersyukur. Itu harusnya sikap seorang hamba yang benar ketika menghadapi nikmat dari Allah Subhanahu wa taala.
Makanya orang-orang yang beriman mereka semakin rajin beribadah, semakin rajin berdoa, semakin bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat Allah yang dengan sebab ini Allah menetapkan nikmat kebaikan tersebut pada dirinya. Karena mereka adalah hamba-hamba yang pandai bersyukur. Ya. Ketika Aisyah radhiallahu taala anha kita tahu dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim melihat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang melaksanakan salat malam demikian panjang berdirinya membaca di satu rakaat berjuz-juz Al-Qur’an.
Aisyah radhiallahu taala anha bertanya kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, taf’alu h waqarallahu laka ma taqadama minambika wa taakhar.” Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, engkau lakukan ini padahal Allah telah menjamin diampuninya dosa-dosamu yang lalu maupun yang akan datang.
Maka apa jawaban Nabi sallallahu alaihi wasallam? akun abdanak. Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada Allah? Masyaallah, itu nikmat dan kebaikan dari Allah. Apalagi kebaikan yang terkenal, kebaikan yang terbesar, kebaikan yang paling agung mengenal Islam, mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, menjadi seorang penuntut ilmu.
Ya, ini bukan beban, ini bukan sesuatu yang sulit, bahkan sesuatu yang akan meringankan beban kita, melapangkan dada kita, memudahkan kebaikan bagi kita dunia dan akhirat. Harusnya ini kita syukuri. Nikmat ini kita benar-benar syukuri kepada Allah Subhanahu wa taala. Selalu memujinya ketika mengingat ini, menyanjungnya [berdehem] dan selalu memperbanyak amal-amal kebaikan dalam rangka bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala.
Sebagaimana yang dicontohkan dengan sempurna dalam petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam. Seperti dalam hadis yang tadi kita sebutkan TB. Warof’na laka. Dan kami meninggikan penyebutan nama-Mu. Ini juga nikmat dari Allah Subhanahu wa taala. Ya, nama Nabi sallallahu alaihi wasallam dimuliakan dan ditinggikan di dalam Islam.
Setiap disebutkan nama Allah Subhanahu wa taala dalam perkara-perkara besar dalam Islam, selalu juga disebutkan setelah itu nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Contoh dalam dua kalimat syahadat, asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Ya, diterangkan oleh Syekh di sini rahimahullah taala. Ai a’laina qodrak.
Kami tinggikan kedudukanmu. Waja’alna laka anana alhasanalilladzi lam yasil ilaiha ahadun. Lam yasil ilaihi ahadun minal khalq. Kami jadikan untukmu [berdehem] pujian yang baik, yang tinggi yang belum pernah sampai kepadanya seorang pun dari makhluk ini. Ini pujian bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam yang disyariatkan dalam Islam, dalam selawat, dalam hal-hal yang lain.
Ini belum pernah kedudukan seperti ini dicapai oleh seorang pun dari kalangan makhluk Allah Subhanahu wa taala. Bukankah ini menunjukkan nikmat yang besar dari Allah Subhanahu wa taala kepada nabinya yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. [berdehem] Fala yudkarullah [tertawa] Fala yudkarullahu illa dukiro maahu rasuluhu sallallahu alaihi wasallam.
Maka Allah Subhanahu wa taala tidaklah disebut kecuali disebut bersamanya rasul-Nya yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kama fidukhuli fil Islam. Contoh di dalam beberapa ibadah yang disyariatkan seperti ketika masuk Islam mengucapkan dua kalimat syahadat. Asyhadu alla ilahaillallah.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah. Wafil azan. Ya, ketika azan dikumandangkan juga disebutkan [berdehem] dua kalimat syahadat ini digandingkan penyebutan nama Allah dengan penyebutan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam wal iqomah.
Juga dalam kumandangan iqamah ketika akan salat. wal khutab [berdehem] di dalam khotbah-khotbah yang disampaikan ketika khotbah Jumat, khotbah id dan yang lainnya selalu ya ceramah-ceramah agama selalu memuji Allah subhanahu wa taala kemudian berselawat atas Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam whairizalika minal umurillati aallahu bihaikro rasulihi Muhammadin shallallah alaihi wa alihi wasallam.
Dan di dalam perkara-perkara lain dari dan dalam hal-hal yang lain dari urusan-urusan yang di situ Allah Subhanahu wa taala meninggikan penyebutan nama Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ini Allah subhanahu wa taala ingatkan nikmat ini kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tentu saja Allah mengingatkan nikmat ini agar kita selalu mengetahui bahwa tidak ada satuun yang berbuat kebaikan dengan kepada kita lebih besar dibandingkan Allah Subhanahu wa taala dalam limpahan nikmat dan karunia-Nya.
Ini untuk semua manusia apalagi kepada hamb-Nya yang paling mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Tib walahu fi qulubi ummatihi minal mahabbati wal ijlali watim. Ditambah lagi ya Nabi sallallahu alaihi wasallam di hati umatnya umat Islam tentu mereka mencintainya selalu mengagungkan dan memuliakannya. [berdehem] Ya ma laaisa liahadin giriruhu ba’dallahi taala.
Yang ini tidak dimiliki atau tidak didapatkan oleh seorang yang lainnya, oleh siapapun selain Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam setelah Allah subhanahu wa taala. yakni kecintaan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kan harus melebihi kecintaan kepada semua manusia siapapun bahkan itu orang tua kita sendiri.
Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang terkenal yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim. La yukminu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min waladihi wa walidihi wasasi ajmain. Tidak beriman salah seorang di antara kamu dengan keimanan yang benar sampai dia menjadikan aku yang paling dicintainya dari anaknya dibandingkan anaknya, orang tuanya dan semua manusia.
Ya, ini kewajiban mencintai Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan ini termasuk bentuk pemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Demikian besar kecintaan di hati umatnya kepada beliau melebihi semua yang ada di kalangan manusia. Ya, tentu kedudukannya setelah cinta kepada Allah Subhanahu wa taala.
[tertawa] Bahkan kisah tentang Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu yang kita tahu juga dalam Sahih Bukhari ya. [berdehem] Ketika Umar ibn Khattab radhiallahu taala anhu berkata kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, “La anta ahabbu ilaiya min kulliyain illa min nafsi.” Sungguh engkau wahai Rasulullah lebih aku cintai dibandingkan segala sesuatu kecuali dibandingkan diriku sendiri.
Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? La ya Umar hatta akuna ahabba ilaika min nafsik. Tidak wahai Umar radhiallahu taala anhu. Sampai kamu menjadikan aku yaitu Nabi Muhammad sallallahu sallallahu alaihi wasallam lebih kamu cintai meskipun dibandingkan dirimu sendiri. Setelah itu Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu berkata, “Fainnakalan ahabbu ilaiya min nafsi.
” Sesungguhnya engkau saat ini wahai Rasulullah lebih aku cintai dibandingkan diriku sendiri. [berdehem] Ya, sebagian dari para ulama menjelaskan di sini Umar ibn Khattab ketika mengatakan pertama kali dia mengatakan sesuai dengan ya tuntutan tabiat asal manusia pasti dia tidak mungkin mencintai orang lain melebih melebihi cintanya kepada di dirinya sendiri.
Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan mengingatkan, “Tidak wahai Umar sampai kau jadikan diriku lebih engkau cintai.” Baru kemudian Umar sadar. Kemudian ternyata dia lebih mencintai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dibandingkan dirinya sendiri. Jadi maksudnya hadis ini bukan berarti tadinya Umar tidak melakukan kewajibannya ya kemudian dia langsung berubah.
Ya, tidak. Tapi maksudnya di sini Umar radhiallahu taala anhu pertama kali berbicara sesuai dengan tabiat asal manusia. Pastinya manusia akan lebih mencintai dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Tapi ternyata setelah dia renungkan, ya keimanan yang benar itu menjadikan seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir lebih mencintai perkara-perkara yang diperintahkan dalam agama.
Apalagi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya lebih daripada kecintaan kita terhadap diri kita sendiri sebagai konsekuensi keimanan yang benar. Maka ini jelas kedudukan yang mulia yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Semakin kuat keimanan seseorang maka dia semakin mencintai Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya lebih daripada kecintaan kepada siapapun.
Nam fajallahu an umatihi afdol ma jaza nabiyan an umatihi. Maka semoga Allah subhanahu wa taala memberikan balasan kebaikan bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan seutama-utama balasan yang Allah berikan kepada seorang nabi dari umatnya. Ya. Maka ini contoh-contoh dari bagaimana Allah Subhanahu wa taala mengagungkan dan meninggikan kedudukan Nabi sallallahu alaihi wasallam seperti yang disebutkan di ayat ini.
Tib. Kemudian setelah itu Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Fa inna maal usri yusro.” Inna maal usri yusro. Sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Kata Syekh di sini ini adalah bisyaratun adzimatun. Kabar gembira yang sangat agung.
Kabar gembira yang sangat besar. annahu kullama wujuda usrun wasubatun fainnal yusro yuqorinuhu wausahibuhu. Apa wujud kabar gembira di ayat ini? Ya, sesungguhnya setiap kali didapatkan kesusahan, kesulitan, maka sesungguhnya kemudahan itu akan selalu menyertai dan menemaninya. Tidak akan dibiarkan kesulitan itu terus sendirian.
Allah janjikan pasti setiap ada kesulitan ada kemudahan. Sampai kata beliau di sini, “Hatta laal usru juhin lakala alaihil yusru faakrajahu.” Ya, sampaiun kalau kesulitan itu misalnya masuk ke dalam lubang biawak, maka kemudahan akan ikut masuk bersamanya untuk mengeluarkannya. Masyaallah. Bagi orang yang beriman ini jelas merupakan kabar gembira.
Setiap kesulitan dalam urusan dunia tidak mungkin akan terus-menerus apalagi menjadikan orang sangka buruk seolah-olah dia tidak mengimani firman Allah Subhanahu wa taala di ayat ini. Ya, bahkan kita tahu nanti juga akan dijelaskan oleh beliau sebagian para ulama lain juga menjelaskan di sini disebutkan alyusru dengan alif lam dan diulang dengan bentuk yang sama.
Alif lam menunjukkan yang pertama sama yang kedua sama. Karena alif lam di sini kan alif lam takrif ya. Sesungguhnya bersama al-usr yang diulang kedua al-usr juga. Jadi yang pertama sama kedua sama. Sedangkan al-yusrun disebutkan dalam bentuk nakirah berarti dia berbeda ya. Maka ini menunjukkan apa? Kesusahan itu Allah sertakan dengan dua kemudahan.
Satu kesusahan Allah sertakan dua kemudahan. Siapa yang ragu dengan janji Allah Subhanahu wa taala ini? bahwa setiap kesusahannya bukan cuma menghadapi satu kemudahan, tapi bahkan dua kemudahan Allah janjikan di ayat ini. Ya. Ya. Karena yusrun disebutkan dalam bentuk nakirah ya, sesuatu yang umum. Kemudian disebutkan yang kedua juga nakirah.
Berarti ini berbeda. Sedangkan al-usur kesusahan disebutkan dengan alif lam menunjukkan ini pengulangan yang dia itu adalah itu sendiri. Yang pertama sama kedua sama. Masyaallah ya. Jadi satu kesusahan sungguh Allah janjikan menyertainya dua kemudahan kamaqala taala. Sebagaimana yang Allah firmankan di ayat yang lain.
Saya ja’alullahu ba’da usri yusro. Maka Allah akan menjadikan setelah kesusahan itu ada kemudahan. Ya wakama q Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana juga yang disabdakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih. Wa innal far maal karbi wa inna maal usri yusro. Sesungguhnya [berdehem] alfaraj jalan keluar solusi dari semua permasalahan itu beserta kesusahan selalu ada bersama dengan kesusahan ya atau kesulitan dan sesungguhnya maal usri yusro bersama kesusahan itu ada kemudahan.
Masyaallah. Ini dipertegas dengan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sahih. Ya, ini menunjukkan kepada kita bahwa kesusahan memang Allah berikan sebagai ujian untuk menguji keimanan kita, untuk menguji sangka baik kita kepada Allah, kesabaran kita. Banyak hikmahnya. Karena kita tahu dan yakin semua perbuatan Allah adalah maha sempurna.
Karena sesuai dengan sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha mulia. Cuman orang-orang ketika berputus asa disebabkan lemahnya imam imannya karena dia kurang yakin dengan janji Allah Subhanahu wa taala. Yang ini tentu tidak pantas dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Tib. Kata beliau di sini watful usri fil ayataini yadullu ala annahu wahid.
Dan al-usur disebutkan dengan takrif. Alif lam takrif sesuatu yang telah dikenal di dua ayat tadi. Fa inama al usri yusron. Innama al usri yusro. Iya kan disebut al-usr dengan alif lam takrif. Ini menunjukkan bahwasanya kesusahan itu satu. Diulang dua kali ya dia itu sendiri satu kesusahan. [mendengus] Watankirul yusri yadullu ala tiqrarihi.
Sedangkan disebutkannya yusr dalam bentuk nakirah tanpa alif lam ya [berdehem] menunjukkan dia ini berulang berbeda yang pertama sama yang kedua. Falan yagliba usrun yusraini. Ini kaidah penting ya. Maka satu kesusahan tidak mungkin bisa mengalahkan dua kemudahan. Ini satu kemudahan saya sudah cukup untuk mengatasinya apalagi dijanjikan dua kemudahan. Masyaallah.
Ya, ini orang yang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa taala benar-benar orang yang merugi, benar-benar orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sementara di sini Allah menjanjikan satu kesusahan, kesulitan dijanjikan dengan dua kemudahan. Falan yagliba usrun yusroini. Maka satu kesulitan tidak akan mungkin bisa mengalahkan dua dua kemudahan.
Wafiil bil alifi wami alumi waag minati maag fainnahu fi akhirihi attaisiru mulazimun lahu. Ditambah lagi penjelasan beliau ketika disebutkan di sini al-usur kesusahan dengan alif dan lam yang ini menunjukkan makna al-istighraq mencakup semuanya mencakup umum semua kesusahan ya ini menunjukkan bahwa semua kesusahan meskipun dia mencapai tingkat kesusahan yang sangat tinggi Maka sesungguhnya di akhirnya pasti ada kemudahan yang selalu menyertainya.
Ini hikmah yang sangat tinggi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang demikian indah menjelaskan semua ini dengan lafaz yang ringkas. Sesusah apapun kesulisahan tersebut, seberat apapun penderitaan tersebut, pasti akan ada kemudahan yang menyertainya. Setelah itu, Tayb. Kemudian di ayat selanjutnya, tumma amarallahu rasulahu shallallahu alaihi wasallam aslan wal mukminina tabaan bisyukrihi wal qiyami biwajibi niamihi.
Setelah itu di ayat berikutnya Allah Subhanahu wa taala memerintahkan kepada rasulnya sallallahu alaihi wasallam ini perintah asal kepada nabinya sallallahu alaihi wasallam kemudian kepada semua umatnya tentu saja karena mereka mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam yaitu untuk mensyukuri mensyukurinya dan menegakkan kewajiban dalam menghadapi limpahan nikmatnya.
[berdehem] Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Faidza faragta fansob.” Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Faidza faragta fansob.” Kalau kamu sudah selesai melakukan sesuatu, ya melakukan satu ibadah, maka bersungguh-sungguhlah mengerjakan ibadah yang berikutnya. A faidza tafaragta min asgika. Ya, artinya kalau kamu sudah selesai mengerjakan kesibukan-kesibukanmu dalam urusan dunia, walam yabqo fi qolbika ma yaukhu dan tidak ada lagi di hatimu yang menghalanginya, fajtahid fil ibadati wadua.
Maka bersungguh-sungguhlah setelah itu beribadah dan berdoa. Ini Allah Subhanahu wa taala memerintahkan kepada kita, ya selesaikan urusan duniamu. Kalau sudah beres, berikan waktu untuk ibadah. Maksudnya jangan sudah selesai urusan dunia setelah itu bermain-main lagi, lalai lagi, melakukan perbuatan-perbuatan yang menyibukkan kita tanpa ada bagian untuk dari waktu kita untuk urusan ibadah.
Jangan seperti itu. Allah memberikan kesempatan, kerjakan urusan duniamu. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Faidza faragta.” Kalau kamu sudah selesai dari kesibukan-kesibukanmu dan tidak ada lagi yang menghalangi hatimu, fajtahid. Bersungguh-sungguhlah. Fansab, bekerja keraslah. Ya, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa.
Ya, waila rbika farghab. Dan hanya kepada Rabbmulah kepada Allah Subhanahu wa taala hendaknya kamu berharap. Yakni waila rbika wahdahu. Kepada Rabbmu. Satu-satunya hendaknya kamu berharap. Aimbat fi ijabati duaika waqobuli ibadatika. Yakni besarkanlah harapanmu, kuatkanlah rjakmu, pengharapanmu kepada Allah bahwa doamu akan dikabulkannya dan amal-amal ibadahmu akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala.
Maka ini sikap seorang mukmin. Dia melakukan urusan-urusan dunia. Setelah itu ya jangan berpindah dari satu urusan dunia ke urusan dunia yang lainnya. Kapan kesempatan kita berikan? Waktu kita berikan untuk Allah Subhanahu wa taala. Bukankah ini dalil yang sangat kuat yang menunjukkan bahwasanya [berdehem] Allah Subhanahu wa taala tetap mensyariatkan bagi kita untuk menyelesaikan urusan-urusan dunia kita yang setelah itu diperintahkan untuk beribadah dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Yak. tidak dilalaikan
ya, tidak di diperintahkan dalam Islam hanya untuk beribadah terus, tetap diperintahkan disyariatkan untuk menyelesaikan urusan-urusan dunia dengan sebaik-baiknya sepanjang tidak melalaikan dari urusan akhirat kita. Wala takun mimman faragu watfaru laibu wa minalirin. Janganlah kamu termasuk orang-orang yang ketika selesai dan ketika telah menyelesaikan urusannya mereka malah bermain-main berpaling dari Allah dan berpaling dari berzikir mengingat Allah sehingga kamu termasuk akan menjadi termasuk orang-orang yang merugi. Naudubillah
minzalik. [berdehem] Ya. Waqila inna makna quihi. Ada juga yang menafsirkan sebagian dari para ulama ada yang menafsirkan makna firman Allah Subhanahu wa taala ini. Faidza faragta minas shatati wa akmaltaha fansob fiduaii. [berdehem] Kalau kamu telah selesai. Ada yang mengartikan ayat ini sebagian dari para ulama ahli tafsir, jika kamu telah selesai melaksanakan salat dan kamu telah menyempurnakannya, maka bersungguh-sungguhlah setelah itu dalam berdoa.
Makanya berdoa setelah selesai salat ini ada sebagian ulama yang berpendapat demikian termasuk Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullahu taala [batuk] [berdehem] ya juga menguatkan hal ini meskipun ya pendapat yang lebih kuat berdoa itu dilakukan bukan setelah selesai salat. Ini ada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang dinyatakan hasan atau sahih oleh Syekh Al Albani rahimahullah taala sebelumnya dinyatakan hasan oleh Imam Ibnu Hajar.
Di dalam kitab Fathul Bari yaitu sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika beliau ditanya, “Ayyu dua in asma?” Doa apakah yang paling didengar, paling dikabulkan oleh Allah azza waalla? Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Fi jaufil lail wadubur shawatil maktubat.” [berdehem] Salat di akhir malam eh apa? Doa di akhir malam sepertiga malam yang terakhir dan di penghujung salat-salat yang wajib.
Di sini Imam Ibnu Hajar menyebutkan sebagian ulama mengartikan dubur di sini setelah selesai salat. Tapi yang terkuat pendapat yang benar yang sesuai dengan hadis-hadis sahih yang lainnya doa dibaca di akhir di akhir salat sebelum salam. Ini salah satu tempat dikabulkannya doa sebagaimana juga di di waktu sujud.
Maksudnya di sini ya, orang yang berdoa setelah selesai salat itu ada pendapat dari para ulama yang mengatakannya. Makanya ada penjelasan Imam Ibnu Qayyim kan yang sering diukil juga mungkin sering kita pernah baca di kitab Zadul Ma’ad yang menyebutkan beliau mengingkari orang yang berdoa bersama-sama dengan suara yang keras setelah selesai salat.
Kata Imam Ibnu Hajar, maksudnya Imam Ibnu Qayyim di sini adalah mengingkari cara pelaksanaan doa seperti ini. Adapun kalau orang berdoa sendiri-sendiri [berdehem] ataupun kalaupun dia berdoa bersama-sama tapi ya [berdehem] tidak dengan suara yang terlalu dikeraskan kemudian dia lakukan setelah selesai misalnya berzikir itu boleh-boleh saja.
Karena yang paling penting setelah selesai salat itu adalah sunahnya berzikir. Seperti kata penjelasan Syekh Ibnu Utsimin rahimahullah taala berdasarkan firman Allah Subhanahu wa taala, “Faidza qoditumus fadkurullaha qiaman waudan waa junubikum.” Jika kalian telah selesai melaksanakan salat, maka berzikirlah kepada Allah.
Baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau sambil berbaring. Ya, itu maksudnya setelah kita melaksanakan zikir, kalau kita ingin berdoa maka itu diperbolehkan. Tapi yang kita katakan tadi, pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, makna dari penghujung salat tadi adalah sebelum salam.
Itulah salah satu tempat yang disyariatkan untuk memperbanyak doa sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis sahih yang lainnya. Ya, kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam Sahih Muslim, setelah orang membaca tahiyat dan selawat, tumma liyatakyar minadai ajabahu ilaih. Kemudian hendaknya hamba ini memilih doa yang paling disukainya.
Jadi ketika itu disyariatkan berdoa yakni sebelum salam dari salat kita. Wa bika far fi suali matolibika. Dan hanya kepada Allahlah kamu berharap dalam meminta dalam memohon permintaan-permintaanmu. Ya, berdoa memohon permintaan hajat dan kebutuhanmu. Wastaadalla manq bialqu ala masruid duai wadikri akib shawatil maktubati. Ya, para ulama yang berpendapat dengan pendapat ini berdalil tentang disyariatkannya berdoa dan berzikir setelah selesai melaksanakan salat-salat yang wajib. Wallahu alam bidzalik.
Allah maha mengetahui tentang hal itu. Tamat walhamdulillah. Selesai penjelasan dari surat ini. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala Rabb alam semesta. Nam. Alhamdulillah selesai surah An-Nas apa ini? Asyarh. Semoga kita bisa mengambil faedah dan manfaat dari penjelasan yang disebutkan oleh Syekh di sini sehingga kita bisa meningkatkan kebaikan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala dan bersemangat dalam mengamalkan amal-amal kebaikan.
Barakallah fikum. shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. [berteriak] um
Leave a Reply