Transcript:
(00:07) [berdehem] [berdehem] H Asalamualaikum
(01:45) warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. [berdehem] Innalhamdalillah nahmaduhu wa’inuhu wa nastagfiruh [berdehem] wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah.
(02:17) Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqq tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah wqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waquulu qulan sadida ulahu faq fauzanima.
(03:13) Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin aazakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya atas taufik yang dimudahkannya bagi kita untuk kembali kita bisa mengadakan majelis ilmu yang mulia di sore hari ini di Masjid Al-Akhdar yang mubarak ini di dalam lanjutan kajian membahas kitab
(03:57) yang sangat bermanfaat kitab Fiqhul Asmail Husna. Memahami nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah. Karya dari As Syekh Al-Allamah, guru kita As Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Albadr hafidahullahu taala. Bab. Barakallahu fikum. Alhamdulillah kita masih melanjutkan pembahasan di [berdehem] beberapa mukadimah atau kaidah-kaidah dasar dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang dibawakan oleh Syekh di bagian semacam [berdehem] mukadimah kitab ini.
(04:40) Saat ini kita masih melanjutkan pembahasan di [berdehem] iqtidu asmaillahi lhsariha minal ubudiyah. Konsekuensi dari memahami nama-nama Allah Subhanahu wa taala dalam pengaruhnya terhadap al-ubudiyah menyempurnakan ibadah kita kepada Allah subhanahu wa taala. Yakni tentu ini merupakan pembahasan inti dari kitab [berdehem] ini ya.
(05:13) Artinya tujuan kita mempelajari ilmu yang agung ini tentu untuk meraih buahnya yang manis yaitu menyempurnakan ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Utamanya ibadah-ibadah hati yang merupakan penopang utama keimanan kepada Allah. yakni ikhlas, khusyuk dalam ibadah, dalam salat, cinta, takut, dan berharap kepada Allah, tawakal yang benar.
(05:41) Yang ini ternyata Allah Subhanahu wa taala akan semakin kuatkan, semakin sempurnakan pada diri seorang hamba dengan semakin hamba ini mengenal dan selalu merenungkan makna yang indah dari nama-nama Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha agung. Bab kita masih melanjutkan pembahasan yang disebutkan oleh Syekh Abdur Razzaq di sini.
(06:11) Bagaimana beliau mencontohkan pengenalan kita terhadap sifat-sifat kesempurnaan Allah akan menumbuhkan dan menguatkan keimanan di hati kita. Tib kata beliau selanjutnya [berdehem] waidza alimal abdu biadlillahi wtiqomi wabihi wasakatihi waquatihi fainna ymmiru lahul khas Jika seorang hamba mengenal, mengetahui sifat Allah yang maha adil, keadilannya, kemahailannya, intiqamihi, bahwa dia selalu membalas perbuatan buruk dengan keburukan, dengan balasan yang
(07:14) sesuai, sifat Allah ghadab yakni Allah bisa murka terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan keridaannya. Marah [berdehem] atau ukubah menimpakan siksaan. Maka ini tentu akan membuahkan dalam diri seorang hamba rasa takut ya waspada dan berusaha menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa taala.
(07:44) Menjadikan hamba ini menjauhi perbuatan maksiat. [berdehem] Ya, karena kalau seorang merenungkan Allah Subhanahu wa taala ketika murka dan menimpakan siksaan, tidak ada yang bisa menceganya. Kita mau lari ke mana pun semua dalam jangkauannya, tidak ada yang luput dari kekuasaannya. Maka tentu ini akan menjadikan seorang hamba ya selalu berpikir untuk menjauhi dan takut jika terjerumus ke dalam hal-hal yang dimurkainya.
(08:20) Karena siksaan Allah Subhanahu wa taala meliputi semua makhluknya dan tidak ada yang bisa menghindarinya. Maka ini akan menjadikan seorang hamba semakin takut kepada Allah, semakin tunduk, semakin berhati-hati untuk menjauhi hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa taala tersebut. Nah, waidza tib qalallahu taala.
(08:48) Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala di dalam beberapa ayat Al-Qur’an misalnya di surah Albaqarah ayat 196. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Wattaqulaha walamu annallaha syadidul iqob. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwasanya Allah Subhanahu wa taala maha keras siksaannya. Yakni kita mendengarkan seorang manusia saja yang keras.
(09:25) [berdehem] perlakuannya terhadap orang-orang yang berbuat salah misalnya. Padahal tentu saja manusia bisa kita hindari bahkan kita bisa berusaha melawan. Ini saja menjadikan kita takut melanggar perintah orang tersebut. Padahal bagaimanapun manusia pasti ada keterbatasan [berdehem] dalam kemampuannya. Jadi kalau kita renungkan sifat Allah Subhanahu wa taala bahwasanya Allah maha keras siksaannya dan sifat ini adalah sifat kesempurnaan.
(09:57) Tidak ada yang bisa mengalahkannya, bagaimana mungkin tidak akan melahirkan rasa takut dan tunduk di hati kita kepada Allah subhanahu wa taala. Contoh lagi di ayat lain surah Albaqarah ayat 203. Wattaqulaha waamu annakum ilaihi tuhsyarun. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian semua akan dikumpulkan di hadapannya.
(10:31) Kalian semua akan dikumpulkan untuk menghadapnya, mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Yakni membaca ayat seperti ini kan membuat kita memikirkan bagaimana caranya selamat ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti yang dia maha keras siksaannya, maha teliti perhitungannya, ya.
(10:58) Kemudian hisabnya sempurna, bagaimana kita akan bisa selamat? Maka hamba ini akan menjadi seorang yang sangat takut dan hati-hati, tidak mau melanggar batasan-batasan syariat Allah Subhanahu wa taala. Jadi mengenal Allah semakin menjadikan kita takut dan tunduk kepadanya, semakin menjaga batasan-batasan syariatnya. Ya, ini buah dari mengenal Allah Subhanahu wa taala.
(11:27) Kemudian ayat yang ketiga, Albaqarah 209. Fain zalaltum mim ba’di ma jaatkumul bayyinatu fa’lamu annallaha azizun hakim. Maka jika kamu tergelincir melakukan perbuatan salah, setelah datang bukti-bukti kebenaran bagimu, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha perkasa lagi maha sempurna hukum dan hikmahnya.
(12:10) Jadi ini contoh ya ayat-ayat yang mengajarkan kepada kita tentang kerasnya azab Allah Subhanahu wa taala, [berdehem] sempurnanya kemahakannya. Kemudian dia adalah azizun zuntiqam, maha perkasa lagi maha kuat balasannya atau siksaannya. Ini akan menjadikan seorang hamba akan takut kepada Allah Subhanahu wa taala, takut melanggar agamanya, takut melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaannya.
(12:49) Jadi ini buah ya yang manis, yang termanis dari pohon iman dalam hal menyempurnakan [berdehem] sifat-sifat kemuliaan yang merupakan inti dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Tiib. Waidza alimal abdu bijalalillahi waomatihi wauluhi ala khqihian waqahr waqr fna ymiruahul walikan wal mahabbata wa jami anwail ibadah.
(13:32) Contoh berikutnya, jika seorang hamba mengetahui, meyakini [berdehem] jalalullah, ya kemaha besaran Allah, kemahaungannya, kemahainggi tinggiannya di atas semua makhluknya, dia maha tinggi pada zatnya, zatnya di atas semua makhluknya, maha tinggi di atas arsynya. Kemudian dia maha tinggi dalam hal qahr keperkasaannya.
(14:04) Ya, maha tinggi dalam hal kemahakuasaannya, kemahakannya. Kemudian qadron, maha tinggi dalam kedudukannya, keagungan dan kemuliaannya. Yakni semua makna kemahagian ada pada Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita meyakini semua ini pasti akan ya sesungguhnya hal ini akan membuahkan pada diri hamba itu alkudu, rasa tunduk ya al-istikanah selalu merendahkan diri kepada Allah subhanahu wa taala selalu menghinakan diri di hadapannya disertai dengan kecintaan kepadanya.
(14:50) dan melahirkan semua jenis-jenis ibadah. Yakni secara tabiat asal manusia [berdehem] sesuatu yang dia ketahui punya keagungan, kebesaran di kalangan manusia yang meskipun itu jelas terbatas pasti menjadikan dia tunduk. Bagaimana kalau dia mengenal yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Tinggi, Maha Kuat lagi Maha Perkasa? itu jelas akan membuahkan tadi ketundukan kepada Allah ya, selalu merendahkan diri di hadapannya disertai dengan mencintainya.
(15:31) Ini semua kita bisa kita bisa buktikan sewaktu kita membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya. Ketika kita melewati ayat-ayat yang seperti ini, kita baca, kita renungkan isinya, kita ulang-ulangi, itu akan membuahkan sifat-sifat utama ini dalam hati kita. Ya, menumbuhkan rasa tunduk kepada Allah, selalu merasa butuh di hadapannya, bergantung kepadanya, mencintainya.
(16:02) Ya, sebagaimana yang sebelumnya tadi, rasa takut kepada Allah, tidak berani melanggar ketentuan dalam syariatnya. Ini kan semua kita tahu merupakan perkara yang ya banyak dilanggar oleh manusia disebabkan karena mereka tidak menempuh jalur terbaik untuk menumbuhkan sifat-sifat mulia ini.
(16:25) Yaitu mengenal Allah Subhanahu wa taala dengan sifat-sifat sifat-sifatnya yang maha agung, maha tinggi lagi maha sempurna. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah ini sudah kita terangkan beberapa kali. seseorang itu kalau punya hati yang masih ada fitrahnya [berdehem] dan tentu setiap orang yang beriman mesti ada kehidupan di hatinya.
(16:48) Maka hal-hal yang tumbuh dalam dirinya misalnya kecintaan kepada makhluk, ketundukan kepada makhluk, ya tentu kadang-kadang orang berlebihan sehingga bisa membawa dia kepada hal-hal yang bisa menjerumuskan kepada kesyirikan misalnya, takut kepada makhluk, berlebihan misalnya atau berharap [berdehem] sampai bergantung kepada makhluk.
(17:15) Kita perhatikan semua sebab yang menjadikan hati hati hamba ini sampai tumbuh perasaan tadi ya, rasa cinta, takut, berharap, tunduk tadi. Sebagian ada yang melampai batas. Kalau direnungkan semua sebab yang ada pada makhluk, tentu secara sempurna ada semua sebab itu pada Allah Subhanahu wa taala. Ya, sebagaimanapun takutnya kita kepada makhluk.
(17:45) Misalnya ada makhluk seseorang yang kuat bisa mencelakakan kita, punya anak buah yang banyak, kemudian kita takutkan perlakuannya yang kejam misalnya atau yang keras, pasti dia terbatas kemampuannya. Anak buahnya pun terbatas kemampuannya. Kalau kita renungkan sifat Allah Subhanahu wa taala, Allah azza wa jalla tidak terbatas kekuasaannya.
(18:10) Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Dia maha kuat lagi maha perkasa. Ketika dia menghendaki apa saja untuk menimpakan kepada hambanya, kalau dia inginkan, maka dia bisa menimpakan hal itu tanpa ada yang mampu mencegahnya. Coba, bukankah ini akan menumbuhkan rasa takut yang akan melebihi rasa takut kita kepada makhluk? Ya, apalagi kalau makhluk tadi sekuat apapun dia pasti ada cela. cara untuk kita bisa lolos.
(18:40) Misalnya kita melarikan diri atau nekad melawan dia dengan menggunakan senjata misalnya atau melakukan hal yang lain. Tapi ketika berhadapan dengan Allah, apakah kita bisa lakukan semua itu? Kita mau lari ke mana? Semua dalam kekuasaannya. Ya, kita [berdehem] tidak punya daya sama sekali ketika berhadapan dengan kekuasaannya, kemahakannya.
(19:04) Jadi kalau kita merenungkan hal ini, maka apapun yang bisa tumbuh di hati kita terhadap makhluk berupa rasa cinta, takut, berharap atau tunduk dan seterusnya tadi, maka tumbuhnya hal tersebut kepada Allah Subhanahu wa taala sebabnya lebih besar dan lebih kuat lagi. Seandainya kita mau merenungkan nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi, yang maha agung, maha sempurna.
(19:37) Ya, yang sudah pernah kita nukilkan pernyataan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala. Akmalunasi ubudiyatan almutabidu lillahi bijamiil asmaai wasifatillati yatu alaihal basyar. Orang yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah adalah yang beribadah kepada Allah dengan memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang bisa dijangkau dengan pengetahuan manusia.
(20:12) Makanya tidak ada yang lebih mulia dibandingkan mengenal Allah. Tidak ada satu kebaikan yang paling besar. Sebab kebaikan yang paling menyempurnakan iman kita dibandingkan mengenal sifat-sifat kemahagian Allah Subhanahu wa taala, sifat-sifat kemahaagungan dan kemahanya. Ya, oleh karena itu ya [berdehem] ini yang menjadikan seorang hamba selalu yakin ya.
(20:42) Allah Subhanahu wa taala ketika mengenalkan dirinya di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dengan nama-namanya yang maha indah. sifat-sifatnya yang maha agung, yang maha tinggi. Memang Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui. Inilah yang paling dibutuhkan oleh seorang hamba dalam rangka menyempurnakan ubudiah, penghambaan diri dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu wa taala.
(21:08) Ya. Dan tentu ada kelebihan besar dengan kita mengenal Allah Subhanahu wa taala dibandingkan tadi yang kita contohkan misalnya kita ya [berdehem] tumbuh rasa takut atau cinta atau berharap atau tunduk kepada makhluk. Jelas ada kelebihan kalau sama makhluk ya karena sifat-sifatnya terbatas bagaimanapun ada kelemahannya.
(21:32) [berdehem] Kalau makhluk pasti kita khawatirkan kezaliman atau dia tidak menunaikan hak yang sesuai dengan harapan kita. Adapun Allah Subhanahu wa taala semua itu tidak akan ada karena Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa, tapi Dia juga maha pengasih lagi maha penyayang. Bahkan kasih sayangnya melebihi kemurkaannya.
(21:58) Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Lamma qodallahul khqo kataba kitabanahu fauqol arsi inna rahmati sabaqat gabi.” Ketika Allah subhanahu wa taala menentukan ketentuan takdir makhluknya, Allah menuliskan sebuah ketetapan di sisinya di atas arsy. “Sesungguhnya rahmatku mendahului atau mengalahkan kemurkaanku.” Allah maha kuasa untuk berbuat apa saja ketika dia murka.
(22:28) Tapi Allah jadikan rahmatnya selalu mendahului kemurkaannya. Jadi kita yang mengenal Allah akan merasa aman. Allah tidak mungkin berbuat zalim. Allah azza wa jalla tidak mungkin melalaikan amal-amal kebaikan kita. Bahkan dia selalu membalas kebaikan dengan balasan yang lebih. Ya. Maka orang yang berlindung kepada Allah Subhanahu wa taala, dia akan merasa tenang, tentram, dan damai.
(22:53) Beda kalau berlindung dengan manusia. Bagaimana kalau manusia ini tidak bisa mengendalikan kemarahannya sehingga kita yang tidak berbuat salah pun akan kena dampak kemarah-kemarahannya. Bagaimana kalau dia yang melindungi kita? Ternyata dia lalai. Sehingga ketika musuh datang, dia sedang tidur atau dia sedang kecapekan, tidak bisa melindungi kita.
(23:15) Ini kemungkinan selalu ada pada kekuatan makhluk. Kemungkinan ini selalu ada pada orang yang bersandar kepada makhluk. Tapi kalau bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala, tidak akan ada semua itu. Makanya semakin kita mengenal Allah itu semakin bersandar kepadanya, semakin tenang kita. Sehingga orang semakin mengenal Allah ya pasti dia akan semakin khusyuk.
(23:40) Pasti hatinya akan semakin tentram dan damai. Ya kata Imam Ibnu Rajab rahimahullah taala, manana lillahi a’ofa manana billahi a’ofa kana lahu aksya. Barang siapa yang dia itu lebih mengenal Allah subhanahu wa taala, maka otomatis dia akan semakin tunduk, semakin khusyuk dalam beribadah kepadanya. Yakni jemaah sekalian hafidakumullah.
(24:06) Tidak akan kecewa seorang hamba kalau dia mengenal Allah Subhanahu wa taala ya dengan mempelajari kandungan nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. ibadah-ibadahnya akan semakin meningkat nilainya, ketenangan di hatinya akan semakin kuat, dan yang lebih penting lagi sikap berlomba-lomba dan bersemangat dalam beribadah akan semakin semakin kuat, semakin tinggi.
(24:35) Sebagaimana yang sudah kita ketahui, ini adalah yang dipraktikkan, contoh yang dipraktikkan oleh para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Orang-orang yang saleh, orang-orang yang keimanan mereka sempurna kepada Allah Subhanahu wa taala. Ulika yusariuna filhairati wahum laha sabiquun. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan dan berlomba-lomba mengerjakan ketaatan kepadanya.
(25:04) [berdehem] Nah, tayib. [berdehem] Qallahu taala. Dicontohkan di sini, seorang hamba yang mengenal kemahaungan Allah, kemahaannya, kemaha tinggiannya akan menumbuhkan ketundukan ya, selalu merasa butuh kepada Allah kecintaan. Contohnya disebutkan di dalam Al-Qur’an misalnya di surah Al-Haj ayat ke-62 Allah azza wa jalla berfirman, “Dzalika biannallaha huwal haqqu wa anna ma yaduna min dunihi huwal batil waallaha huwali aliyul kabir.
(25:54) ” Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala dialah yang maha benar al-Haq. Dan bahwasanya apa yang mereka seru, sembahan-sembahan yang mereka sembah, yang mereka seru selain Allah Subhanahu wa taala, semua itu batil. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala dialah yang maha tinggi lagi maha besar.
(26:19) [batuk][berdehem] Allah maha tinggi di atas semua makhluknya. Allah maha besar di lebih besar dibandingkan semua makhluknya. Allah maha kuat lagi maha perkasa lebih kuat pastinya lebih perkasa dibandingkan semua makhluknya. Lantas kenapa kita berlindung kepada makhluk? Karena ternyata masih ada yang lebih kuat dibandingkan dia.
(26:41) Bagaimana kalau yang lebih kuat ini yang menyerang makhluk tersebut? Berarti perlindungan kita kepadanya sia-sia. Kenapa tidak kita minta perlindungan kepada yang maha kuat, maha perkasa yang tidak ada yang bisa mengalahkan kemahakuatan dan kemahakannya? Ya, jadi ini contoh kan. Semakin kita merenungkan sifat-sifat Allah pasti kita semakin mantap bersandar kepadanya, semakin kuat bertawakal dan berserah diri kepadanya.
(27:09) [berdehem] Adapun bersandar kepada makhluk tadi karena ada risiko kekurangannya, jadi kita tidak akan tenang. Bahkan kita akan merugi [berdehem] karena makhluk pasti ada batasan. Ya. Adapun Allah Subhanahu wa taala berlindung kepadanya justru akan menjadikan kita semakin tenang, justru menjadikan kita semakin aman.
(27:32) Yang ini akan menjadikan ibadah-ibadah kita akan semakin semakin tunduk dan semakin khusyuk kepadanya. Contoh lagi di surah Albaqarah ya ayat 255 di ayat kursi ayat yang terakhir Allah menyebutkan wahuwal aliyul adzim dan dialah yang maha kaya lagi maha agung. Kemudian di surah Az-Zumar ayat ke-67. Wama qodarullaha haqqa qodrihi wal ardu jamian qobdatuhu yaumalqiamati wasamawatu matwiyatun biyaminih subhanahu wa taala amma yusyrikun.
(28:21) Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan. Padahal bumi ini semua dalam genggamannya pada hari kiamat. Dan langit-langit semuanya digulung dengan tangan kanannya yang maha mulia, maha suci Allah dan maha tinggi daripada dari perbuatan syirik yang mereka lakukan. Yakni kenapa mereka menyekutukan Allah dengan makhluk yang kecil yang tentu mereka tidak akan bisa melakukan ya hal-hal yang Allah Maha Kuasa lakukan.
(28:58) Menggenggam bumi pada hari kiamat, menggulung langit-langit dengan tangan kanannya. Ya. Maka Allah maha maha suci, maha tinggi dari perbuatan syirik yang mereka lakukan. Sangat tidak pantas menyekutukan Allah Subhanahu wa taala dengan makhluknya yang kecil. Jadi semakin kita mengenal kebesaran dan kemahagungan Allah, semakin menjadikan kita jauh dari kesyirikan.
(29:23) Karena tidak mungkin dan tidak pantas bagi akal manusia yang sehat untuk menyamakan Allah Subhanahu wa taala yang maha besar, maha agung, dan maha tinggi dengan makhluknya yang serba kecil, serba lemah, dan serba kekurangan. Ini merupakan perbandingan yang sangat-sangat tidak pantas. Nah, tayib. Masih contoh lagi kata Syekh Abdur Razak hafidahullahu taala.
(29:53) Waidza alimal abdu bikamalillahi wa jamalih ajabahu h mahabbatan khotanukan wauqoniman ila liqaillah. Jika seorang hamba mengetahui meyakini kemahaurnaan Allah dan kemahahannya. Ini sudah pernah kita jelaskan. Tabiat asal hati manusia pasti mencintai keindahan. [berdehem] tertarik dengan keindahan, tertarik dengan sesuatu yang kelihatannya sempurna, misalnya fasilitas yang canggih, tertarik hati kita dengannya.
(30:31) Ya, ini hati yang normal, hati yang masih sehat tabiatnya. Ya, [berdehem] bagaimana kalau kita mengenal Allah yang dia maha indah, maha tinggi kesempurnaannya. Kata beliau di sini, ini akan melahirkan pada diri seorang hamba kecintaan yang khusus. Kemudian kerinduan yang agung untuk selalu bertemu Allah. Hamba yang seperti ini keadaannya, ibadah adalah sesuatu yang paling dicari dan diminatinya di dunia.
(31:04) Tidak perlu dipaksa. Kenapa? Dalam hatinya selalu rindu kepada Allah. Ya, [berdehem] orang yang telah mengenal yang maha sempurna keindahannya, yang maha tinggi kesempurnaannya, bagaimana mungkin dia tidak akan selalu ingin dekat dengan ya [berdehem] kekasihnya tersebut? Ini yang menjadikan orang-orang yang beriman sudah kita ketahui selalu berlomba-lomba dalam kebaikan, selalu bersegera dalam mengamalkan ketaatan kepada Allah.
(31:36) Bahkan agama ini Allah Subhanahu wa taala turunkan dengan keindahannya. Karena yang mensyariatkannya maha indah. Sehingga kebaikan-kebaikan dalam agama ini pantas untuk kita berlomba-lomba melakukannya. Sehingga Allah perintahkan demikian ya sudah kita tahu dalam Al-Qur’an. Fastabiqul khairat.
(31:55) Berlomba-lombalah kalian dalam melakukan kebaikan. Wafialika falyatanafasil mutanafisun. Dan untuk kebaikan seperti itu hendaknya manusia berlomba-lomba bersegera melakukannya. Ya, kecintaan yang benar kan sudah pernah kita sebutkan kaidahnya juga penjelasan dari Imam Ibnu Qayyim. Alladzatu tabiatun lil mahabbah. Kelezatan itu mengikuti rasa cinta.
(32:24) Kita mencintai Allah pasti otomatis kita akan merasakan nikmat ketika dekat dengannya. Makanya ibadah merupakan santapan hati yang paling lezat, santapan rohani. Ini rahasianya kenapa orang-orang yang mencintai Allah betah berlama-lama beribadah kepadanya. Kan sudah pernah kita sebutkan Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih yang dikisahkan oleh Aisyah radhiallahu taala anha.
(32:54) Beliau ketika salat tahajud itu betah berdiri berlama-lama sampai bengkak kakinya. Bagaimana tidak bengkak dalam satu rakaat membaca surah Albaqarah 2 juz lebih tambah surah Ali Imran selesai tambah surah An-Nisa itu dalam satu rakaat. Dan kenapa bisa sebetah itu? Ya tentu Nabi sallallahu alaihi wasallam pasti contoh yang sempurna kan ya.
(33:15) Para sahabat juga setelah itu. Demikian ibadah mereka meskipun tentu tidak sesempurna Nabi sallallahu alaihi wasallam, tapi kenapa orang-orang yang saleh ini bisa berdiri berlama-lama ya sampai berjam-jam jelas ketika membaca berjuz-juz seperti itu? Kenapa mereka begitu kuat? Ya, jawabannya karena sesuatu yang dicintai di dalam hati, ketika hati mencintainya, maka hati ini akan menggerakkan anggota badan untuk bertahan dan bersabar ketika menghadap kekasih yang dicintainya.
(33:52) [berdehem] Itu sudah pasti ya. Seseorang menunggu sesuatu yang sesuatu ini mendatangkan kesenangan bagi dirinya, dia akan bisa berdiri berlama-lama. Kalau misalnya tidak ada kursi untuk dulu, dia akan bertahan berdiri berlama-lama karena sesuatu ini dibutuhkannya atau dia sukai. Misalnya, misalnya menunggu seseorang atau menunggu pembagian uang atau yang lainnya, menunggu antrian makanan enak misalnya, orang bisa berdiri berlama-lama.
(34:24) Padahal ini urusan dunia pasti terbatas. Bagaimana dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa taala yang merupakan dambaan hati yang paling tinggi? Jadi semua rahasianya ada di sini jemaah sekalian hafidakumullah. Mengenal Allah ini yang akan menjadikan ibadah kita indah. Ini yang akan menjadikan rasa takut kita kepada Allah berganti menjadi ketenangan.
(34:47) Makanya inilah rahasianya untuk khusyuk dalam ibadah. Ini rahasia untuk menjadikan lisan kita selalu basah dengan berzikir kepada Allah. Tidak pernah bosan-bosan membaca Al-Qur’an berdoa. Ya, ingat lagi kemarin yang kita nukilkan asar yang sahih dari sahabat Utsman Ibnu Affan radhiallahu taala anhu.
(35:10) Lau thurat qulubuna lamaat min kalamillah. Seandainya hati kita bersih, kita tidak akan pernah merasa puas, tidak pernah merasa bosan untuk selalu membaca firman-firman Allah. Ya. Jadi, [berdehem] kita bisa contohkan tentu ini contoh yang salah sebenarnya harusnya tidak dilakukan ya dalam urusan dunia kita.
(35:33) Bagaimana kita betah membaca berita [berdehem] yang kita anggap berita itu kita sukai ya. Berita-berita yang sesuai dengan hobi seseorang. Orang yang hobinya olahraga ketika membaca berita atau menyaksikan tontonan misalnya Piala Dunia atau olahraga yang lain, dia akan betah membaca berlama-lama. Padahal ini tidak ada manfaatnya yang lebih dari sekedar pengetahuan saja.
(36:01) tidak juga menjadikan sebab hatinya menjadi tenang, hanya penasaran saja. Itu urusan dunia. Maka bagaimana dengan yang berhubungan dengan kebaikan yang benar-benar mendatangkan ketenangan hati seperti membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya, berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala, satu-satunya sebab utama yang menjadikan hati manusia tenang, damai.
(36:27) Jadi jemaah sekalian hafidakumullah, mengenal Allah itu benar-benar luar biasa. Makanya sudah pernah kita nukilkan juga penjelasan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Apa yang akan dirasakan oleh orang yang mendekatkan diri kepada Allah melalui jalur mengenal nama-nama dan sifat-sifatnya? Kata beliau, [berdehem] asiru ilallahi min thqil asmaai wasifati [berdehem] fathuhu ajabun wasya’nuhu ajabun wa fathuhu ajab.
(36:59) Orang yang berjalan perjalanan menuju Allah subhanahu wa taala melalui jalur mengenal nama-nama dan sifat-sifatnya, keadaannya sangat mengagumkan. Dan pembukaan pintu-pintu kebaikan melalui jalur ini sangat luar biasa. Ya, jadi ini ilmu yang agung. Ini rahasia dari ketakwaan, semangat beribadah, berlomba-lomba dalam kebaikan yang dimiliki oleh hamba-hamba yang saleh.
(37:30) Sebagaimana yang diterangkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau contoh yang kita baca dari kisah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Barakallahu fikum. Tib. [berdehem] [berdehem] Jadi ya ini akan melahirkan kecintaan yang khusus dan syuk rasa rindu yang agung untuk selalu bertemu dengan Allah. Dan dalam hadis yang sahih yang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dibawakan di sini sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Man ahabba liqa allahi ahabballahu liqaahu.
(38:17) ” Masyaallah balasannya sesuai dengan amal yang dikerjakan. Barang siapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya. Ya, mencintai perjumpaan dengan Allah ini kan buah dari kita mengenal kemahahannya. Balasannya Allah Subhanahu wa taala juga mencintai perjumpaan dengannya.
(38:46) [berdehem] Kalau sudah seperti ini balasan yang didapatkan oleh seorang hamba, inilah keberuntungan yang tiada taranya. Kan sudah kita pernah sebutkan Allah Subhanahu wa taala ketika memberikan balasan-balasan yang besar itu Allah Subhanahu wa taala jadikan balasannya itu langsung dari dia, tidak diwakilkan kepada makhluknya.
(39:11) Contoh seperti tawakal kan. Wamay yatawakal alallahi fahua hasbuh. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah subhanahu wa taala maka Allah sendiri yang mencukupkannya. Kalau Allah yang mencukupkan kita, apalagi yang kita butuhkan dari semua kebaikan? Apalagi yang kita takutkan dari semua keburukan, kecuali Allah pasti lindungi kita darinya.
(39:34) [berdehem] Ya, lihat janji keutamaan yang Allah sebutkan di akhir surah Alkahf. Famanana yarju liqaa rbihi. Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya ini hamba yang mencintai Allah, maka hendaknya dia mengamalkan amalan saleh. Wala yusyrik biibadati rbihi ahada.
(39:59) Dan janganlah melakukan perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah. Jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Makanya rasa rindu bertemu Allah, barang siapa yang memilikinya sehingga menjadikan dia mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya. Hamba seperti ini pasti akan beruntung dunia dan akhiratnya. Ini yang juga pernah [berdehem] saya jelaskan kenapa Nabi sallallahu alaihi wasallam mengumpulkan dalam doa beliau dua keutamaan tertinggi.
(40:32) Keutamaan tertinggi di dunia dan di akhirat. Di dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dan dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullahu taala di dalam doa yang panjang ya ini selalu kita tekankan doa ini perlu sangat sangat-sangat butuh untuk kita hafal karena kandungannya sangat agung dan doa ini termasuk yang dimuat di dalam buku kumpulan doa dan wirid ustaz kita yang mulia Al Ustaz Yazid Jawaz rahimahullahu taala ya.
(41:04) Di antara isi dari doa yang panjang ini, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengucapkan wa asaluka wajhika wasuqa liqaqika fiir mudirin wnatin mudillah. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu [mendengus] kelezatan memandang wajahmu yang maha mulia di surga nanti. Kita tahu menurut akidah ahlusunah wal jamaah ini adalah kenikmatan tertinggi di surga.
(41:39) Melebihi kenikmatan apapun di surga. Padahal nikmatnya surga luar biasa tingginya. Tapi ketika penghuni surga berjumpa dengan Allah, mereka akan [berdehem] ya melupakan kenikmatan-kenikmatan yang lain. Karena inilah yang paling tinggi bertemu dengan yang maha indah yang menciptakan semua keindahan yang ada di surga.
(42:01) Aku mohon kepadau kelezatan memandang wajahmu ya Allah di surga nanti dan kerinduan bertemu denganmu di dunia. Suka ila liqaillah. Ini adalah buah dari iman, buah dari mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Ternyata digandingkan balasan ini dengan balasan kenikmatan tertinggi di surga. Sehingga kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, berarti perasaan rindu untuk bertemu Allah, keinginan untuk selalu dekat dengan Allah, berjumpa dengan Allah, ini adalah buah iman yang paling manis, kedudukan iman yang paling tinggi di dunia.
(42:40) Makanya digandingkan dengan kenikmatan tertinggi di akhirat ya. Dan semua kembali kepada apa? Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Jadi ilmu ini memang balasannya balasan-balasan paling tinggi dunia dan akhirat. Ya. Sehingga sekali lagi jemaah sekalian hafidakumullah betapa meruginya seseorang yang menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang rendah.
(43:09) Kalau dia tidak mengenal kedudukan yang paling tinggi dunia dan akhirat ini. Barakallahu fikum. Nah, tib [berdehem] wna ymiru abdi anwaan minal ibadati. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini akan membuahkan melahirkan pada diri seorang hamba membuahkan berbagai macam jenis yang banyak dari ibadah-ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala.
(43:47) Bahkan menyempurnakan inti ibadah pada dirinya. Walihadza qala taala. Oleh karena itu Allah subhanahu wa taala berfirman dibawakan di sini ayat di akhir surat Alkahf ya. Famanana yarju liqobihi falyammal amalan shiha wala yusrik biibadati rbihi ahada. Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-Nya, maka hendaknya dia mengamalkan amalan saleh.
(44:23) Dan janganlah dia menyekutukan Allah dalam beribadah kepadanya dengan sesuatu apapun. Ini contoh-contoh yang dibawakan dan ya perlu dipraktikkan nanti waktu kita masuki pembahasan setelah beberapa kaidah yang dibawakan di sini waktu kita akan membahas satu persatu nama-nama Allah Subhanahu wa taala mulai dari Allah ya kemudian nanti ada Arraab Ar-Rahman kemudian beberapa nama yang kadang-kadang dibawakan lebih dari satu atau dua nama yang semakna dijadikan satu pembahasan.
(45:01) Kita akan mengetahui di setiap nama-nama Allah itu terdapat kandungan ya kandungan makna yang itu kalau kita renungkan dengan benar di hati kita akan menyempurnakan ya ubudiyah utamanya amalan-amalan hati seperti yang tadi kita sebutkan yang itu merupakan inti daripada keimanan ya inti utama daripada keimanan dan ibadah-ibadah yang utama dalam hal menyempurnakan tauhid menyempurnakan akan ketakwaan kita kepada Allah.
(45:32) Kayak tadi ikhlas ya, khusyuk, cinta, takut, berharap, rida kepada Allah, selalu bersangka baik kepadanya, yang kemudian nanti berlomba-lomba dalam kebaikan, selalu merasakan rindu untuk dekat dengan Allah, bertemu dengan Allah. Ya, [berdehem] setiap nama itu mengandung ya ee konsekuensi ubudiyah yang khusus. Maka semakin banyak kita mengenal dan kita mengkaji, mendalami makna, nama-nama dan sifat-sifat Allah, berarti akan semakin menguatkan tumbuhnya atau semakin menyempurnakan tumbuhnya ibadah-ibadah hati ini dalam
(46:17) diri seorang hamba. Ya, memang kalau orang tidak mengenal dengan benar nama-nama dan sifat-sifat Allah, hal-hal seperti ini akan tidak akan tumbuh dengan baik pada dirinya. Mungkin dia akan bisa beribadah. Mungkin kita melihat orang yang kelihatan rajin atau semangat beribadah. Tapi pertanyaannya, apakah rajinnya didasari dengan perasaan nikmat dalam dirinya, perasaan senang ketika melaksanakan ibadah? Ya, ada saja orang yang mungkin dia tidak begitu suka dengan sesuatu, tapi dia memaksakan diri untuk semangat
(46:53) melakukannya. Pertanyaannya, sampai kapan dia bertahan? Tidak akan lama bertahannya. Sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa, antum bayangkan dia akan bisa bertahan lama, tidak akan ya. Khususnya ketika ada tawaran lain yang lebih tinggi, dia akan tinggalkan yang pertama. Tapi orang yang telah mengenal Allah di situlah hatinya berhenti, mentok.
(47:16) Tidak ada lagi yang lebih tinggi dibandingkan itu. Ya, maka dia tidak akan berpaling ke manaun. Ya, sudah pernah kita jelaskan. Inilah inti istiqamah yang sesungguhnya. Jadi, mengenal Allah Subhanahu wa taala itu menjadikan ibadah kita semakin sempurna, semangatnya semakin tinggi, berlomba-lomba. Menjadikan hati kita tidak akan berpaling kepada yang lainnya.
(47:39) Semua jenis kebaikan akan tumbuh seiring dengan semakin kita mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Coba antum perhatikan di pembahasan berikutnya, Syekh menyebutkan kesimpulan. Kata beliau [berdehem] ya, wabihadza [berdehem] yuklamu analudiyata bijami anwha rojiatun ila mutatil asma wasifat. Maka dengan inilah kita ketahui dan dengan inilah diketahui bahwa al-ubudiyah penghambaan diri ibadah kepada Allah dalam semua jenisnya lahir dan batin semuanya rojiatun kembalinya kepada mengenal kandungan nama-nama dan sifat-sifat
(48:33) Allah tidak ada satuun yang luput. [berdehem] Ya, mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah inilah yang akan menyempurnakan semua jenis penghambaan diri lahir dan batin [berdehem] kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan kita tahu kan kalau ibadah hati kita sudah kuat otomatis ibadah anggota badan akan semakin sempurna.
(48:58) Ala wa inna fil jasadi mdotan shahat shahal jasadu kulluh waid fasadat fasadal jasadu ala wahiya alqalbu. Ketahuilah dalam diri manusia ada segumpal daging yaitu hatinya. Kalau segumpal daging ini baik, semua anggota badan manusia akan baik. Kalau segumpal daging ini buruk, maka semua anggota badan manusia akan buruk atau rusak.
(49:22) Ketahuilah itu adalah hati manusia. Maka ini kesimpulan kata beliau, ubudiyah dalam semua jenisnya ya kembalinya kepada memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah. [berdehem] Walihadza fainnahu yataakadu ala kulli abdin muslimin anifaahu wafa asmaahu wa sifatihi makrifatan shahian salimah. Oleh karena itu ya sungguh yataakad semakin kuat kewajiban bagi setiap hamba [berdehem] muslim ya semakin ditekankan, semakin dikuatkan kewajiban ini bagi setiap hamba muslim untuk dia mengenal Rabb-Nya, mengenal Allah Subhanahu wa
(50:17) taala, mengenal nama-namanya, mengenal sifat-sifatnya yang maha tinggi dengan cara yang benar dengan cara yang selamat dari penyimpangan-penyimpangan, yakni mengenalnya dengan sesuai dengan akidah ahlusunah wal jamaah. [berdehem] Ya, karena seperti ini pentingnya. Bagaimana seorang hamba akan mendapatkan penjagaan dari Allah.
(50:42) Ya Allah azza wa jalla maha mengetahui. Tidak ada satuun di dunia ini yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dibandingkan mengenal Allah Subhanahu wa taala sebagaimana tidak ada satuun yang berhak untuk disembah oleh seorang hamba selain Allah Subhanahu wa taala. Satu-satunya tidak ada sekutu baginya. Makanya Allah maha mengetahui sehingga dia menjadikan isi dan kandungan isi dan kandungan Al-Qur’an mayoritas menjelaskan tentang nama-nama Allah yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji.
(51:22) [berdehem] Nah, [mendengus] wa ylama maadomanathu waaroha wa mujibatilmi biha. Ya. Dan hendaknya seorang hamba mengenal apa yang dikandung dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah. Bagaimana asar dampaknya dalam menguatkan ibadah dalam hati manusia pada diri manusia lahir dan batinnya. serta mujibatil ilmi bihak konsekuensi dari mengenal ilmu yang agung ini.
(51:59) Wabi yaumu hadul abdiakmul nasibuhu minalhair. Dan dengan inilah akan semakin besar bagian kemuliaan yang didapatkan oleh seorang hamba dan semakin sempurna pula bagian kebaikan yang akan diraihnya. Yakni intinya kalau Allah Subhanahu wa taala adalah zat yang maha indah dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala adalah satu-satunya sebab untuk mencukupkan seorang hamba dalam segala kebutuhannya.
(52:40) Sebagaimana tauhid menyembah kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata dan tidak ada sekutu baginya. Ini adalah inti kebaikan agama kita, inti keselamatan dunia dan akhirat. Maka berarti mengenal Allah ya dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha agung.
(53:03) Inilah kebaikan satu-satunya yang paling utama yang akan membawa keberuntungan dan kemuliaan bagi seorang hamba dunia dan akhirat. Ya, oleh [berdehem] karena itu sekali lagi ilmu yang paling agung dalam Islam adalah ilmu mengenal Allah. Karena apa? Inilah yang membuahkan kedudukan yang paling tinggi dalam ya pada diri seorang hamba di dunia dan di akhiratnya.
(53:29) Tib. Kemudian ini tinggal paragraf yang terakhir kita selesaikan ya. Kata Syekh berikutnya hafidahullahu taala, innal mukminal muwahid, innal mukminal muwahida yajidu biimanihi wa yaqinihi biasmai rabbihil husna wasifatihil ulya addallati ala adomatillahi wa kibriyaihi wa tafarrudihi bil jalali wal kamali bil jalali wal jamali hubban waallulan wa khusyuan wahaban warajaan wa’ [berdehem] ya sesungguhnya seorang hamba yang beriman dan bertauhid kepada Allah dengan keimanannya, keyakinannya
(54:36) terhadap Ap nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Yang ini menunjukkan akan kemahaungan Allah, kemaha besarannya. Ya, kemaha esaannya dalam segala ketinggian keindahan. Hamba ini akan mendapati ya hal yang akan menarik dirinya untuk menghimpunkan semua tekadnya. dalam rangka menghadap Allah Subhanahu wa taala semata-mata.
(55:11) Baik dengan mencintainya, selalu merendahkan diri di hadapannya, selalu khusyuk dan tunduk kepadanya, inkisar, ya merasakan dirinya butuh dan bergantung kepada Allah, selalu berharap ya [berdehem] selalu berharap dan menginginkan balasan di sisi Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Sebagaimana rasa takut, tawakal, semua akan semakin sempurna pada dirinya.
(55:40) Antum perhatikan hal-hal ini kalau sudah tumbuh dalam diri kita, maka inilah tauhid yang sesungguhnya. Inilah makna tauhid yang sejati. Berarti tauhid dan iman seorang hamba benar-benar hidup dan indah. Karena diisi dengan roh-roh keimanan yang merupakan inti dan tiang utama penegak keimanan. Jadi inilah yang menghidupkan keimanan yang dalam arti yang sesungguhnya.
(56:12) Nah, tiib watwafar himmatuhu himmatihi broqaihi nawafili takmilid. dan juga akan [berdehem] ya menguatkan tekadnya dalam mencari keridaan Allah Subhanahu wa taala dengan cara dia mencurahkan segenap kemampuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan-amalan sunah setelah dia menyempurnakan kewajiban-kewajibannya.
(57:00) Yakni waktu kita membaca biografi orang-orang yang saleh, kita akan dapati hidup mereka itu hanya berbolak-balik dari satu ibadah kepada ibadah yang berikutnya. Mungkin orang bertanya, “Apakah mereka tidak bosan? Apakah mereka tidak jenuh? Apa tidak ada kegiatan yang lain yang mereka ingin lakukan?” Maka jawabannya kan sudah pernah kita terangkan.
(57:24) Semua aktivitas manusia yang sadar ini kaidah dasarnya kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala itu dilakukan sesuai dengan apa yang dominan di hati. Kecenderungan apa yang dilakukan di hati manusia. Lihat orang yang beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebagian orang yang melakukan urusan dunia bekerja sampai betah seharian dia bekerja, malam dia lembur.
(57:52) Karena dalam hatinya dominan mencari misalnya imbalan materi atau popularitas misalnya atau hal-hal yang berhubungan dengan hasil yang dia akan didapatkannya dari urusan dunia. Sayangnya di kalangan manusia kalau ini berlaku untuk orang yang mencari dunia malah dipuji. Iya kan? Dipuji sebagai orang yang rajin bekerja, orang yang tekun [berdehem] dalam mencari nafkah ya bahkan dikatakan sebagai pahlawan.
(58:26) Tapi kalau orang yang melakukan ini dalam urusan agama, justru mereka akan mencela. Hanya agama saja yang diurus seperti tidak ada bagian untuk untuk dunia dan seterusnya. Padahal sama dengan urusan dunia. Cuman urusan dunia kalau kita kerjakan dan kita buru seperti itu tidak ada manfaatnya malah mencelakakan.
(58:48) Karena semua urusan dunia adalah apa? Kullu man alaiha fan. Semua yang ada di muka bumi ini adalah fana. akan hancur. Wabqo wajhu rbika dzul jalali wal ikram. Yang kekal adalah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Jadi [berdehem] kalau seseorang itu di hatinya dominan cinta kepada Allah, dia tidak akan pernah merasakan bosan dalam beribadah akan berpindah dari satu ibadah kepada ibadah yang lainnya.
(59:17) Karena inilah kecenderungan dan dominan yang ada di hatinya. Ya. Maka ini mereka lakukan dengan gembira, dengan senang seperti yang diterangkan di sini ya. Dia akan mencurahkan segenap kemampuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan-amalan sunah setelah menyempurnakan amalan-amalan yang wajib.
(59:41) Wat taufiku warusdu biyadillah la mana haula wala quwwata illa bihi azza wall. Dan taufik itu serta petunjuk selalu ada di tangan Allah subhanahu wa taala semata-mata. Tidak ada yang bisa mencegah ketika Allah memberikan sebagaimana tidak ada yang bisa memberikan ketika Allah menceganya. Serta tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah azza wa jalla. semata-mata.
(1:00:12) Selesai pembahasan di bab ini ya. yang berhubungan dengan tadi kandungan konsekuensi memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam pengaruhnya terhadap menyempurnakan penghambaan diri ibadah kepada Allah subhanahu wa taala yang semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kita untuk memahami pembahasan yang agung ini dan menjadikan sebagai ilmu yang bermanfaat yang mewariskan amalan saleh yang memotivasi kita untuk semakin bersemangat berusaha meningkatkan kualitas iman kita kepada Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita
(1:00:52) sebagai hamba-hamba yang selalu bersegera dan berlomba-lomba dalam mengamalkan amal-amal ketaatan kepadanya. Barakallahu fikum. [berdehem] Bab selesai pembahasan ini. Kita cukupkan sampai di sini. Dan sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan maka saya persilakan. Barakallahu fikum. I silakan, Pak.
(1:01:22) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. [berdehem] Ee di dalam surah Albaqarah 186 itu ee kira-kira terjemahan bebasnya kalau ada yang nanyakan aku, katakan aku dekat ee [berdehem] dan aku menerima doa-doa kalian. Seperti itu, Ustaz. Apakah ini bagian daripada implementasi dari nama Allah? ee ee Assami dan Alqarib yang berdampak kepada kita ee [berdehem] berdoa menguatkan kesungguhan kita untuk berdoa, Ustaz.
(1:01:55) Iya. Mohon penjelasannya. Jazakallah kir. [berdehem] Iya. Barakallahu fikum. Ana punya artikel yang berjudul Memahami Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah. [berdehem] Allah maha dekat. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu taala, Allah itu maha tinggi dalam kedekatannya dan maha dekat dalam kemahagiannya.
(1:02:24) [berdehem] Di sini makna kemaha dekatan Allah Subhanahu wa taala ya tidak bertentangan dengan maha tingginya Allah Subhanahu wa taala. Karena pengertian dekat sendiri tidak mesti menunjukkan makna dekat zat dengan zat. Ya, [berdehem] seperti dicontohkan oleh sebagian dari para ulama, kita bisa menggunakan kata-kata dekat padahal orang itu jauh dari kita.
(1:02:51) Contoh ini di kalangan manusia [berdehem] ya. Misalnya kita mengatakan si fulan teman dekat saya, padahal rumahnya jauh dari kita. Ya, ada yang bertanya sama kita, “Bagaimana antum dengan si Fulan?” “Oh, saya dekat sama dia.” Padahal rumahnya berjauhan. Tapi karena kita punya kedekatan dalam artian selalu ya akrab ya, selalu pergi bersama dan banyak kecocokan.
(1:03:19) [berdehem] Kita mengatakan kita dekat dengan dia. Al kulihal ini contoh bahwa artinya kedekatan itu tidak mesti menunjukkan kedekatan zat. Apalagi di sini kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan yang sifatnya khusus dalam hal yang berhubungan dengan pengabulan doa. [berdehem] Makanya seperti kata Syekh Ibnu Utsimin rahimahullahu taala, sifat dekat Allah ini selalu Allah gandingkan dengan ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba kayak tadi berdoa.
(1:03:46) Ya Allah Subhanahu wa taala menjanjikan [berdehem] bagi hamba yang bersungguh-sungguh berdoa kepadanya maka Allah akan kabulkan. Ini menunjukkan dekatnya Allah Subhanahu wa taala dengan permohonan hamba-hambanya untuk segera dikabulkannya. Ya waalaka ibadi qib ujibu da. Dan jika hamba-hambaku bertanya kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam tentang aku, yakni tentang Allah, maka sesungguhnya aku maha dekat.
(1:04:20) Aku akan menjawab seruan hamba-hamba yang berdoa ketika dia memohon kepadaku. Contoh lain, Allah menyebutkan sifat maha dekatnya ini dengan hamba yang sujud. Seperti dalam hadis riwayat Imam Muslim, aqru ma yakunul abdu minbihi wahua sajid faaksirud dua fihi. Sedekat-dekatnya keadaan seorang hamba dari Rabbnya, dari Allah Subhanahu wa taala ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa padanya.
(1:04:51) Sehingga sebagian ulama kan sudah pernah kita sebutkan menyebutkan ya menjelaskan atau menguatkan pendapat bahwa sujud adalah rukun salat yang paling utama karena dialah ketika itu hamba paling dekat dengan Allah Subhanahu wa taala. Jadi maksudnya di sini kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan yang bersifat khusus.
(1:05:13) Yakni kedekatan kayak tadi Allah dekat dengan hamba-hamba yang sujud. Karena posisi sujud itu adalah bentuk yang sempurna seorang hamba merendahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa taala. Di mana dia meletakkan anggota tubuhnya yang paling dimuliakannya itu kepalanya, wajahnya sejajar dengan tanah dalam rangka tunduk dan merendahkan diri kepada Allah.
(1:05:33) Sudah seperti itu kita membaca dalam sujud kita apa ini zikir subhana rabbiyal a’la atau subhana rabbiyal a’la wabihamdih. Ya, maha maha maha tinggi maha suci rabku [berdehem] yang maha tinggi. Kita merendahkan diri dan menjadikan Allah subhanahu wa taala ya menyebutkan kemahagian dan kemaha muliaannya. Nah, barakallah fikum.
(1:05:57) Ada yang lain? [berdehem] H Ya, [berdehem] kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita di sore hari ini. Semoga bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bianin ila yaumiddin wa akiru dakwanahamdulillahiabbil
(1:07:03) alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Ah
Ustadz Abdullah Taslim, Lc, M.A – FIQIH ASMAUL HUSNA – YouTube
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply